Soroti Ketua BEM UGM Diteror usai Surati UNICEF Demi Hentikan Program MBG, Politisi Muda: Suara Datang dari Keresahan
- Kolase Instagram/@tiyoardianto_
Yogyakarta, tvOnenews.com - Politisi muda Aryo Seno Bagaskoro menyoroti isu Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM), Tiyo Ardianto dan keluarga mendapat teror. Aksi itu terjadi usai berupaya menghentikan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seno berpendapat teror yang diterima Ketua BEM UGM itu terhadap pemerintah sebagai salah satu cerminan keresahan anak muda. Mereka ingin kondisi negara segera diperbaiki pemerintah.
Menurutnya, aksi teror menyasar kepada Tiyo Ardianto dan keluarga sebagai bentuk kemunduran bangsa. Tentu aksi dari sejumlah akun anonim di media sosial tidak boleh terjadi terhadap anak muda yang mengkritik berbagai program pemerintah.
"Ide yang disampaikan adalah kristalisasi keresahan anak-anak muda. Substansinya adalah perbaikan terhadap status quo yang dirasa stagnan," ujar Seno dilansir dari Antara, Selasa (24/2/2026).
Pemerintah Wajib Melindungi Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM

- Instagram/@senobagaskoro
Lanjut Seno, pemerintah menjadi tempat harapan bagi masyarakat. Mereka memiliki kewajiban melindungi hak kebebasan berpendapat bagi setiap warga negara, termasuk dari anak muda.
Pemerintah melindungi hak kebebasan berpendapat harus disertakan dengan jaminan konstitusi. Hal ini dapat membentuk praktik kebebasan berpendapat di Indonesia.
Terkait aksi teror diterima Tiyo dan keluarga, menurut Seno, hal itu menjadi bagian salah satu di mana negara melindungi anak mudanya dalam kebebasan berpendapat.
Ironisnya, Tiyo tidak sekadar mendapat teror berupa pesan WhatsApp dari nomor dengan kode Inggris. Ia memperoleh ancaman penculikan hingga dituduh sebagai agen asing.
Tiyo bahkan dinilai hanya mencari panggung. Aksi teror tersebut kini menggegerkan publik dan viral setelah mengirim surat ke UNICEF sebagai upaya memberhentikan program MBG.
Seno hanya menyampaikan harapan kepada aparat penegak hukum. Dari aksi teror tersebut, aparat mengusut tuntas hingga menangkap para pelaku demi menciptakan kemerdekaan berpendapat tetap dilindungi negara.
"Negeri ini tidak boleh anti-kritik. Pemerintah sebaiknya mendengarkan substansi gagasannya dan berterima kasih kepada anak muda yang masih peduli terhadap bangsanya," jelasnya.
Penggagas Komunitas Pandu Negeri itu kemudian menyinggung terkait respons bernada sinis dari pemerintah terhadap suara pelajar dan mahasiswa.
Pendiri Aliansi Pelajar Surabaya itu menilai reaksi sinis tersebut hanya menumbuhkan persepsi di ruang publik terkait pemerintah. Mereka menganggap pemerintah cuek mengoreksi pembenahan situasi yang carut-marut.
"Suara itu lahir dari kejujuran nurani. Respons yang keliru justru dapat memperkuat argumentasi yang disampaikan," tegasnya.
Kronologi Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM Diteror usai Berupaya Hentikan MBG

- Instagram @bem.ugm
Mulanya, Badan Eksekutif (BEM) UGM mengirim surat terbuka kepada United Nations Children's Fund (UNICEF). Tujuannya sebagai respons atas tragedi siswa SD yang bunuh diri di Ngada, NTT.
Motif YBR, siswa SD berusia 10 tahun diduga karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp10 ribu. Bagi Tiyo, aksi gantung diri dialami bocah tersebut menjadi gambaran adanya kegagalan negara.
Negara dinilai tidak memberikan jaminan hak dasar anak khususnya akses mengenai pendidikan. Tragedi anak SD bunuh diri tak lepas dari arah kebijakan dan prioritas pemerintah sekarang.
"Peristiwa ini membongkar jurang besar antara klaim keberhasilan pemerintah dan realitas yang dihadapi masyarakat, terutama kelompok paling rentan," kata Tiyo dalam keterangan pers BEM UGM, Kamis (6/2/2026).
Ia menyoroti capaian statistik dilontarkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, berbagai penyampaian dalam forum-forum rapat tidak menunjukkan kondisi riil di lapangan.
Sontak, dalam surat menyasar ke UNICEF tersebut, BEM UGM memberikan kritik kebijakan MBG. Menurut mereka, kehadiran program prioritas ini justru menggerus anggaran untuk akses pendidikan.
UNICEF dan lembaga internasional diminta memperhatikan situasi hak anak di Indonesia. Dalam surat dari Tiyo bertuliskan, "What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book? (Di dunia macam apa kita hidup ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena ia tidak mampu membeli pena dan buku?)."
Tiyo mengaku mendapat rentetan pesan WhatsApp. Ia mengabarkan setidaknya ada enam nomor misterius menggunakan kode +44 sebagai kode negara dari Inggris Raya.
"Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah," demikian bunyi pesan terhadap Tiyo.
Berbagai platform media sosial miliknya juga menjadi sasaran serangan teror berupa konten dibuat seperti AI. Tiyo pun diterpa isu LGBT dari UGM karena tulisan, "Tiyo ini adalah langganan. Tiyo ini suka menyewa LC karaoke."
Ibu Tiyo juga menjadi sasaran serangan pesan dari nomor misterius. Anaknya dituduh mengambil dana kampus.
Tiyo mengaku dirinya dibuntuti dua pria tak dikenal bertubuh tegap yang diam-diam memotret dirinya. Itu terjadi saat berada di sebuah kedai, Rabu, 11 Februari 2026.
Tiyo tidak takut dengan ancaman teror tersebut. Ia pun langsung berkomunikasi dengan LPSK, KIKA, hingga pihak kampus UGM demi tindak lanjut.
(hap)
Load more