Ketua BEM UGM Soroti Kasus Anak di NTT Bunuh Diri Harus Jadi Alarm, Pemerintah Wajib Tinjau Ulang MBG
- YouTube/retorikashow
Ia menduga, lingkaran di sekitar Presiden tidak memberikan informasi utuh terkait situasi rakyat kecil yang mengalami kesulitan ekstrem di lapangan.
“Saya yakin sampai sekarang Presiden enggak tahu bahwa ada peristiwa itu, karena saya yakin orang-orang di sekitar Presiden enggak ngasih tahu bahwa ada kejadian itu," ujarnya.
Bagi Tiyo, kejadian tersebut menunjukkan adanya keterputusan antara penguasa dan realitas rakyat.
Ia menilai bahwa sistem birokrasi dan politik di Indonesia kini sedang mengalami kebuntuan, di mana suara rakyat sulit menembus tembok kekuasaan.
“Kemampatan, kebuntuan, jalan-jalan perbaikan itu enggak bisa kita dobrak hanya di bangsa ini,” ucapnya.
"Saya rasa warga dunia harus bantu rakyat Indonesia menyelamatkan masa depan bangsanya, karena kita hari ini punya presiden yang enggak bisa dikasih tahu siapa-siapa," sambungnya.
Atas dasar itulah, Tiyo menjelaskan alasan BEM UGM memilih untuk menyurati United Nations Children’s Fund (UNICEF) ketimbang hanya menyampaikan aspirasi ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Ia berharap dengan melibatkan lembaga internasional, isu pendidikan dan kesejahteraan anak di Indonesia bisa mendapatkan perhatian global.
“Ya tentu pemanti dasarnya adalah keputusan anak yang bunuh diri di NTT. Itu isu luar biasa penting dalam konteks anak-anak. Bunuh diri anak bukan persoalan sederhana. Itu harusnya membuat pemerintah sadar bahwa ada yang salah dengan prioritas kebijakan kita," jelas Tiyo.
Pernyataan Tiyo Ardianto tersebut memunculkan diskusi luas di masyarakat.
Banyak kalangan akademisi dan aktivis menilai langkah BEM UGM sebagai bentuk perlawanan moral terhadap sistem kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. (adk)
Load more