Kemhan Ingatkan Ancaman Siber di Indonesia Sudah Terjadi, Sasar Bank hingga Infrastruktur
- Rika Pangesti/tvOnenews.com
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Pertahanan RI (Kemhan) mengingatkan ancaman serangan siber terhadap Indonesia bukan sekadar potensi, tetapi sudah terjadi.
Serangan tersebut bahkan disebut telah menyasar berbagai sektor penting, mulai dari lembaga keuangan hingga infrastruktur layanan publik.
Asisten Khusus Menteri Pertahanan RI Bidang Cyber Security, Sylvia W. Sumarlin, mengatakan serangan siber tidak selalu terlihat seperti perang konvensional, namun dampaknya bisa mengganggu sistem vital negara.
“Keamanan siber itu tidak semata-mata hanya perang kayak perang militer, bukan,” kata Sylvia dalam acara Hari Kebudayaan Keamanan Indonesia (HKKI) 2026 di Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah serangan siber di Indonesia selama ini menyasar sektor perbankan dan institusi keuangan.
“Serangan siber itu sendiri di Indonesia kita bisa lihat terutama terhadap bank-bank, financial institution, itu sudah terjadi,” ujarnya.
Selain itu, gangguan terhadap layanan penting seperti listrik, server, hingga kebocoran data juga termasuk dalam kategori serangan siber.
“Gangguan-gangguan kecil misalnya terhadap penyelenggaraan listrik, atau penyelenggaraan server, atau penyelenggaraan data-data itu semua yang bocor segala macam, itu adalah bentuk penyerangan atau serangan siber terhadap kita,” kata Sylvia.
Meski demikian, pemerintah belum dapat memastikan apakah serangan-serangan tersebut merupakan operasi yang dilakukan oleh negara lain seperti yang kerap terjadi dalam konflik geopolitik global.
“Apakah itu berarti itu serangan state-owned enterprise, dalam arti negara terhadap kita, kita belum bisa mengatakan dampaknya seperti itu atau seperti di luar negeri,” ujarnya.
Sylvia menambahkan, perkembangan teknologi digital saat ini membuat ruang siber menjadi arena baru dalam dinamika geopolitik dunia.
Bahkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sudah mulai digunakan dalam berbagai konflik global.
“Di saat ini adalah era di mana benar-benar dunia digital itu tidak mengenal border. Dalam hal ini Indonesia pun tidak mau ketinggalan,” katanya.
Ia mencontohkan penggunaan AI dalam berbagai dinamika geopolitik yang terjadi di sejumlah negara.
“Kita bisa lihat juga bahwa aplikasi AI ini sendiri dipakai bahkan untuk saat geopolitik, yang kita lihat ada perang di Iran, kemudian pada saat yang terjadi di Venezuela, itu semua menggunakan AI,” ujarnya.
Karena itu, Kemhan menilai penguatan sumber daya manusia (SDM) di bidang keamanan siber menjadi langkah penting untuk menghadapi potensi ancaman di masa depan.
“Apa yang dilakukan oleh kita semua termasuk dari Kementerian Pertahanan yaitu pada saat ini kita fokus untuk memperkuat SDM, sumber daya manusia untuk keamanan siber,” kata Sylvia.
Menurutnya, penguatan SDM siber tidak hanya dilakukan di sektor akademisi atau lembaga non-pemerintah, tetapi juga di lingkungan kementerian dan lembaga negara.
“Bukan hanya di akademisi-akademisi atau institusi yang non-BUMN, tapi di kementerian-kementerian pun dihimbau untuk masing-masing kementerian memiliki ahli-ahli siber terutama untuk menghadapi insiden,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan ruang bagi generasi muda untuk berinovasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Terus apa nih yang dipikirkan dari kita sebagai generasi penerus? Tentunya dari kita yang lebih dahulu adalah menciptakan tempat gitu untuk mereka berkarya. Terutama pada saat sekarang kita bisa berkarya di banyak hal dengan adanya... nah, ini zamannya sekarang ini banyak Artificial Intelligence (AI) yang aplikasi-aplikasinya itu banyak bisa dipakai,” pungkasnya. (rpi/muu)
Load more