DPR Minta Masyarakat Bijak Gunakan Energi, Jangan Panic Buying dan Mulai Berhemat BBM
- PPN
Jakarta, tvOnenews.com - Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Gobel menilai pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia mengenai stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut hanya cukup untuk 21 hari harus menjadi perhatian serius.
Menurutnya, keterbukaan pemerintah mengenai kondisi cadangan energi nasional penting untuk membangun kepercayaan publik, sekaligus menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah dan masyarakat.
“Kita harus terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi yang ada. Di saat yang sama, masyarakat juga perlu diajak untuk menyikapi situasi ini dengan bijak, misalnya dengan mulai berhemat dalam penggunaan energi,” ujar Gobel, Minggu (8/3/2026).
Gobel menjelaskan, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, baik minyak, gas, maupun listrik.
Situasi tersebut, kata dia, harus menjadi momentum pembelajaran bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem ketahanan energi nasional.
“Yang paling penting, menurut saya adalah pemerintah, termasuk PLN dan Pertamina, harus mengambil langkah strategis. Ini menjadi pengalaman penting bagi kita untuk melihat apa yang masih kurang dan apa pekerjaan rumah yang harus segera kita selesaikan,” tegas politisi Fraksi NasDem itu.
Salah satu pekerjaan rumah yang dinilai mendesak adalah percepatan investasi di sektor energi, khususnya pembangunan kilang minyak serta pengembangan energi baru terbarukan.
Gobel menilai pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif agar proyek strategis di sektor energi dapat berjalan lebih cepat.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan yang berpotensi memicu kepanikan (panic buying) di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Dalam hal ini perlu edukasi tidak hanya dari pemerintah, namun juga seluruh elemen bangsa kepada masyarakat untuk tidak panic buying dengan melakukan pembelian berlebih atau bahkan penimbunan BBM yang justru akan memperparah kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan kondisi tersebut harus menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat sistem energi nasional agar lebih tangguh menghadapi dinamika global.
“Sekali lagi ini pembelajaran bagi kita semua. Sebagai negara besar, kita harus memperkuat sistem energi kita agar lebih tangguh dan tidak mudah terpengaruh oleh dinamika global,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kondisi ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang belakangan menjadi sorotan publik.
Sorotan tersebut terutama merujuk pada pernyataannya menjelang rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026), yang menyebut stok BBM nasional hanya cukup hingga 20 hari.
Menurut Bahlil, durasi penyimpanan energi Indonesia saat ini berada di kisaran 25–26 hari, dengan standar minimum nasional sebesar 21 hari.
"Kita tahu bahwa standar minimum nasional adalah 21 hari. Ini semuanya di atas 21 hari," ucapnya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
Sebagai perbandingan, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mewajibkan negara anggotanya memiliki cadangan minyak darurat minimal setara dengan 90 hari impor bersih.
Dengan ketentuan tersebut, ketahanan pasokan energi Indonesia masih berada jauh di bawah standar internasional.
Namun, Indonesia bukan anggota penuh IEA, melainkan hanya berstatus Associate Member (anggota asosiasi), sehingga tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi ketentuan cadangan minyak darurat tersebut.
"Memang secara faktanya ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25-26 hari, enggak lebih dari itu," tuturnya. (rpi/dpi)
Load more