Targetkan 3 Juta Fakir Miskin, Kemenag Kawal Penyaluran Zakat Rp473 Miliar Selama Ramadan
- Kemenag
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Agama (Kemenag) mengawal penyaluran bantuan sosial keagamaan senilai Rp473 miliar sepanjang Ramadan 1447 Hijriah.
Zakat ini ditargetkan menjangkau sekitar 3 juta warga fakir miskin di 117 kabupaten dan kota yang menjadi prioritas penanganan kemiskinan ekstrem.
Peluncuran program ini dilakukan dalam kegiatan "Selasar Hangat: Harmoni Lintas Keyakinan Kolaborasi Joyful Ramadan" yang berlangsung di Jakarta International Velodrome, Kamis (12/3/2026) malam.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat peran zakat, infak, dan sedekah dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ia menuturkan, penguatan tata kelola dana zakat tidak hanya difokuskan pada penyaluran bantuan yang bersifat karitatif, tetapi juga diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi bagi para mustahik.
“Optimalisasi zakat, infak, dan sedekah harus diarahkan pada program yang benar-benar menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan, sekaligus mendorong mereka untuk berdaya secara ekonomi,” kata Waryono.
Menurutnya, langkah tersebut juga merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat yang menempatkan Kementerian Agama sebagai regulator dalam pengelolaan dana sosial keagamaan.
“Sebagai regulator, Kemenag memastikan tata kelola zakat berjalan transparan, akuntabel, dan tepat sasaran sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Waryono menambahkan bahwa potensi filantropi Islam di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sejak sistem pengelolaan zakat dikoordinasikan secara nasional pada 2015, penghimpunan zakat meningkat pesat hingga mencapai sekitar Rp44 triliun pada 2025.
Ia menilai peningkatan tersebut menunjukkan bertambahnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga pengelola zakat serta meningkatnya kesadaran umat dalam menjalankan kewajiban sosial keagamaan.
“Potensi zakat di Indonesia sangat besar. Jika dikelola secara optimal dan terintegrasi, zakat dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat jaring pengaman sosial masyarakat,” katanya.
Melalui kerja sama antara pemerintah, lembaga amil zakat, dan berbagai pemangku kepentingan, penyaluran bantuan selama Ramadan tahun ini diprioritaskan bagi daerah yang masih memiliki tingkat kemiskinan ekstrem tinggi.
Program tersebut juga diharapkan memperkuat sinergi berbagai lembaga filantropi Islam, termasuk Badan Amil Zakat Nasional dan lembaga amil zakat lainnya, dalam memperluas jangkauan program pemberdayaan masyarakat.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menekankan pentingnya integrasi data agar penyaluran bantuan dapat tepat sasaran.
“Kita memastikan zakat, infak, dan sedekah bergerak berdasarkan data sosial ekonomi terpadu sehingga penanganan kemiskinan bisa lebih efektif dan tidak tumpang tindih dengan program bantuan lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan memerlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, lembaga filantropi, dan masyarakat luas.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kekuatan filantropi masyarakat harus digerakkan untuk mempercepat upaya pengentasan kemiskinan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Badan Amil Zakat Nasional, Shodiq Mujahid, menyatakan bahwa kerja sama lintas lembaga menjadi faktor penting untuk memaksimalkan dampak program filantropi.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan zakat kini semakin diarahkan untuk mendukung program pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk bagi kelompok mustahik yang memiliki potensi berkembang.
“Zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan karitatif, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan. Melalui program yang tepat, mustahik dapat didorong untuk mandiri dan pada akhirnya bertransformasi menjadi muzaki,” ujarnya.
Melalui sinergi pemerintah, lembaga zakat, dan berbagai pihak terkait, penyaluran dana sosial keagamaan selama Ramadan diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam upaya menekan angka kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Load more