John Herdman
- Istimewa
Kesimpulan saya, ini pertama kalinya Indonesia bermain kembali dengan sistem dan strategi yang jelas, bukan hanya semangat.
Saat laga melawan Bulgaria, dalam strategi “parkis bus”, secara statistik, Indonesia tampil sangat dominan dengan mencatatkan penguasaan bola hingga 64 persen. Aliran bola dari lini belakang yang dikomandoi Jay Idzes dan Kevin Diks terlihat sangat tenang dan terstruktur.
Herdman memang datang bukan seperti Patrick Kluivert yang sudah menjadi bintang sebelumnya. Setelah ditinggal oleh Patrick bisa dibilang timnas sepak bola kita porak poranda. Pondasi yang sudah dibangun oleh Shin Tae yong tak disokong, justru dilemahkan. Beruntung Herdman memang pelatih spesial membangun tim yang jatuh, terpuruk dan medioker.
Herdman membangun timnas putra Kanada pada 2018 dalam kondisi lapangan ganti yang cemar oleh keributan, kubu kubuan pemain merajalela, peringkat rendah. Masuk sebagai pelatih underdog, dengan dingin Herdman membenahi kebobrokan itu. Seperti yang saya baca, yang dilakukan Herdman agak mirip dengan STY, ia membangun motivasi ke pemain satu persatu. Ia membangkitkan kepercayaan diri, tak ada tim yang benar benar gurem, kecuali pikiran pemain yang kerdil. Ia membangkitkan visi kebersamaan dari ruang ganti membawanya ke tengah lapangan. Hasilnya kita tahu ia pernah mengalami 17 pertandingan tak terkalahkan dengan timnas Kanada, masuk ke Piala Dunia setelah 36 tahun.
Kelebihan Herdman adalah ia tak hanya pelatih, ia seorang leader, ia bisa memimpin. Dengan kemampuan memimpinnya (dari melihat rekam jejaknya) saya merasa Herdman cocok memimpin sebuah tim yang pernah terseok seok karena perbedaan karakter, perbedaan asal usul budaya (lokal dan naturalisasi) dan ruang ganti yang pernah bising. Karena bukan superstar, John Herdman hadir lebih rileks, namun punya visi dan imajinasi. Selamat berkiprah! (Ecep Suwardaniyasa)
Load more