Apresiasi Langkah Pemerintah Sikapi Kenaikan Avtur, Bambang Haryo: Harusnya Tiket Pesawat Tak Perlu Naik
- istimewa
Hal yang sama, imbuhnya, juga terjadi saat pesawat yang hendak take-off harus berjalan ke ujung landasan. Padahal, menurut Bambang Haryo, untuk pesawat narrow-body tak perlu hingga ujung landasan untuk take-off.
"Berbeda dengan yang wide-body, seperti Boeing 747, 777 atau 787, mereka harus ke ujung landasan untnuk persiapan take-off. Tapi kalau yang narrow body, pesawat ukuran sedang, seperti pesawat yang digunakan untuk penerbangan Surabaya-Jakarta, tak perlu ke ujung landasan. Karena mereka mereka cukup ke tengah-tengah landasan. Sudah ada lajur taxiway-nya, mereka bisa lebih cepat. Sehingga tidak perlu menghabiskan ban bakar selama mereka jalan menuju ke ujung landasan," urainya lagi.
Sebagai contoh, lanjutnya, di Bandara Soekarno-Hatta, dari tiga runway yang tersedia, ada satu runway yang tidak pernah dipergunakan.
"Kalau itu digunakan, maka landing maupun take-off pesawat menjadi lebih cepat. Artinya, tidak akan menyedot bahan bakar lebih banyak," kata Bambang Haryo.
Bahkan, lanjutnya, jika semua insentif tersebut diberikan oleh pemerintah, harga tiket pesawat seharusnya turun, bukan malah naik.
"Dengan pemotongan PPN yang artinya pendapatan sudah naik 11 persen, ditambah peniadaan bea masuk, menjadi 12 persen. Lalu ditambah dengan pemotongan airport tax, jika memang potongan 50 persen dari tarif yang berlaku 10 persen, jadinya 5 persen. Maka sebetulnya, insentif yang diberikan kepada airline ini, itu sudah melebihi dari 15 persen dari total biaya. Kenaikan akibat ban bakar adalah sebesar 38 persen dari 40 persen atau berkisar 13 persen. Jadi harusnya malah dengan ada insentif, harga tiket turun 2 persen malah," pungkasnya. (aag)
Load more