Harga Elpiji 12 Kg Tembus Rp228 Ribu, Dedi Mulyadi Sarankan Warga Masak Pakai Kotoran Sapi
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Jakarta, tvOnenews.com - Kenaikan harga elpiji nonsubsidi mendorong Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak masyarakat mencari sumber energi alternatif yang lebih terjangkau. Ia menilai potensi lokal seperti limbah organik dan kotoran ternak bisa dimanfaatkan sebagai solusi pengganti gas elpiji.
Menurut Dedi, masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional, mulai dari mengolah sampah menjadi energi, memanfaatkan biogas dari kotoran sapi, hingga penggunaan listrik untuk kebutuhan memasak.
"Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa," ujar Dedi.
Seruan itu menguat setelah harga elpiji 12 kilogram di Jawa Barat naik menjadi Rp228.000 per tabung, sementara elpiji nonsubsidi 5,5 kilogram kini berada di angka Rp107.000. Penyesuaian harga yang berlaku sejak 18 April 2026 itu dinilai menekan pengeluaran rumah tangga dan memicu kebutuhan akan sumber energi yang lebih stabil.
Dedi melihat pengembangan energi alternatif berbasis potensi lokal bisa menjadi langkah realistis menghadapi gejolak harga energi. Salah satu yang disoroti adalah pemanfaatan biogas dari limbah peternakan yang telah diterapkan sejumlah peternak di Kabupaten Bandung Barat.
Di wilayah tersebut, kotoran sapi diolah menjadi gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Sistem ini disebut mampu menghasilkan nyala api yang kuat dan dapat digunakan secara berkelanjutan tanpa terpengaruh perubahan harga pasar.
Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi, termasuk dengan mengembangkan kembali cara-cara tradisional yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
"Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas. Jadi memang kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita," kata gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu
Selain biogas, Dedi juga menilai masyarakat pedesaan bisa kembali memanfaatkan kayu bakar yang masih mudah diperoleh sebagai salah satu opsi energi rumah tangga. Sementara di kawasan perkotaan, ia mendorong penggunaan kompor listrik sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada elpiji nonsubsidi.
Meski pemerintah memastikan harga elpiji subsidi 3 kilogram belum mengalami perubahan, Dedi tetap mengajak masyarakat mulai membangun kemandirian energi berbasis swadaya. Menurutnya, diversifikasi sumber energi penting sebagai langkah antisipasi jika tekanan ekonomi dan fluktuasi harga energi terus berlanjut. (ant/nba)
Load more