Ancaman PHK di Lima Sektor Industri, Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Cepat, Harusnya Ada Lapangan Kerja
- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah merespons meningkatnya kekhawatiran gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur dengan menegaskan bahwa tekanan industri tidak bisa dilihat hanya dari perusahaan yang tumbang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, dinamika ekonomi selalu menghadirkan dua sisi yakni ada usaha yang jatuh, tetapi juga ada sektor dan perusahaan baru yang tumbuh.
Pernyataan itu disampaikan di tengah peringatan kalangan buruh mengenai potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan di sejumlah industri strategis seperti tekstil, plastik, elektronik, otomotif, hingga semen.
“Kalau masalah perusahaan jatuh-bangun selalu ada. Yang saya lihat net-nya seperti apa. Lima jatuh, ada yang bangkit nggak?,” ujar Purbaya, di Jakarta, dikutip Kamis (7/5/2026).
Gelombang tekanan terhadap industri disebut dipicu kombinasi pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan biaya impor bahan baku, serta ketidakpastian ekonomi global yang mulai membebani aktivitas produksi.
Namun pemerintah menilai kondisi tersebut belum menggambarkan keseluruhan arah ekonomi nasional. Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih berada di atas 5 persen, Purbaya meyakini peluang penciptaan usaha dan lapangan kerja baru tetap terbuka.
“Kalau pertumbuhan ekonomi cepat seperti kemarin, harusnya ada penciptaan lapangan kerja baru dan banyak perusahaan baru yang timbul,” ungkap dia
Meski demikian, ia mengakui pelaku usaha masih dibayangi ketakutan akibat derasnya sentimen negatif dan kekhawatiran akan krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada 1998.
“Kelihatannya walaupun bagus, orang masih agak takut. Karena banyak yang nakut-nakutin, katanya mau 1998 dan macam-macam,” tutur Purbaya.
Untuk menjaga dunia usaha tetap bergerak, pemerintah berupaya memastikan likuiditas perbankan tetap longgar agar akses pembiayaan industri tidak tersendat di tengah tekanan global.
“Perbankan akan kita pastikan uangnya cukup di sistem perekonomian sehingga dunia usaha bisa dapat akses ke pembiayaan,” jelas Purbaya.
Perhatian khusus juga diberikan kepada industri tekstil nasional yang saat ini mulai kesulitan mendapatkan pinjaman perbankan karena dianggap sebagai industri yang memasuki fase sunset industry.
Pemerintah mengaku telah berdiskusi dengan asosiasi tekstil dan menyiapkan dukungan pembiayaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), termasuk opsi kredit berbunga rendah untuk modernisasi mesin produksi.
“Kita perkuat industri tekstil di sini. Mereka susah dapat pinjaman bank, makanya kita dorong lewat LPEI,” tegasnya.
Selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga akan memperketat pengawasan terhadap impor ilegal yang dinilai menekan industri domestik, sekaligus menjaga daya beli masyarakat agar konsumsi tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.
“Kunci pertumbuhan kuartal II adalah daya beli dijaga, belanja tetap digalakkan, dan iklim investasi diperbaiki,” tandas Purbaya. (agr)
Load more