Tragedi di Gunung Dukono: Dua Pendaki Singapura Ditemukan Tewas Berpelukan
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Operasi pencarian terhadap pendaki yang hilang di Gunung Dukono, Maluku Utara, berakhir dengan penemuan yang memilukan.
Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua warga negara asing (WNA) asal Singapura dalam kondisi tidak bernyawa setelah kawasan tersebut dilanda erupsi.
Kedua korban, yang diidentifikasi sebagai Heng dan Sha, ditemukan di titik koordinat yang tak jauh dari lokasi tertangkapnya sinyal darurat.
Penemuan ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani.
“Kedua korban ditemukan pada pukul 13.00 WIT di koordinat 1°42'9.90"N / 127°52'48.50"E, sekitar 13 meter arah utara dari lokasi pertama kali sinyal darurat ditangkap oleh Basarnas Command Center,” jelas Iwan di Ternate, Minggu (10/5).
Kondisi saat penemuan sangat mengenaskan. Akibat hantaman material erupsi berupa batu besar, tubuh kedua korban ditemukan dalam keadaan tidak utuh. Iwan menyebutkan bahwa keduanya ditemukan dalam posisi yang menyentuh hati.
“Korban ditemukan dalam posisi saling berpelukan dan terhimpit batu besar,” tuturnya.
Selain dua warga Singapura tersebut, terdapat satu korban lain berkebangsaan Indonesia bernama Angel yang sebelumnya juga dilaporkan terdampak bencana erupsi ini.
Proses evakuasi jenazah dari bibir kawah Gunung Dukono menuju posko utama di Desa Mamuya berlangsung dramatis.
Tim gabungan harus berhadapan dengan cuaca buruk berupa hujan deras serta medan yang sangat berisiko tinggi akibat aktivitas vulkanik yang masih mengancam.
“Kantong jenazah tiba di posko induk Desa Mamuya pada pukul 17.43 WIT, selanjutnya korban dibawa ke RSUD Tobelo untuk keperluan autopsi,” tambah Iwan.
Iwan pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh unsur yang terlibat, mulai dari TNI, Polri, BPBD, hingga para relawan yang tetap gigih di lapangan meski nyawa menjadi taruhannya.
“Walaupun kondisi cuaca hujan dan sangat berisiko di lapangan, tim SAR gabungan tetap bekerja tanpa mengenal lelah sehingga korban dapat ditemukan dan dievakuasi,” tegasnya.
Tragedi ini bermula pada 8 Mei 2026, ketika Basarnas Command Center menangkap sinyal SOS dari perangkat Garmin di area Gunung Dukono.
Laporan tersebut diperkuat oleh keterangan Kepala Desa Mamuya mengenai adanya pendaki yang terluka akibat erupsi, yang kemudian memicu operasi pencarian besar-besaran ini.
Load more