LCC MPR Rutin Digelar, Federasi Serikat Guru Indonesia Sebut Juri Tak Belajar dari Pengalaman: Makin Tidak Profesional
- Tangkapan layar
tvOnenews.com - Publik masih memberi perhatian pada polemik Lomba Cerdas Cermat yang diselenggarakan oleh MPR RI.
Polemik ini menjadi ramai dibicarakan setelah perbedaan penilaian dari dewan juri terhadap dua siswa yang memberikan jawaban sama, namun nilainya berbeda.
Amarah publik meluap setelah Siswa SMAN 1 Pontianak mengajukan protes kepada dewan juri namun tidak diindahkan dan tetap diberikan nilai minus lima.
Bukan hanya publik yang memberi perhatian pada polemik ini, tetapi juga dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).
FSGI Sebut Juri Tidak Pernah Belajar dari Pengalaman
Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti mengungkapkan dalam ajang Nasional ini tidak dipersiapkan dengan maksimal meski sudah dilakukan rutin setiap tahun.
Pertama, Retno menyoroti tidak ada juri yang berasal dari kalangan akademisi. Hal ini menunjukkan lomba tersebut tidak profesional.
“Harusnya bisa dipersiapkan. Ini (Lomba Cerdas Cermat) kan setiap tahun ada. Berarti seharusnya semakin lama semakin profesional. Ini menunjukkan justru semakin tidak profesional dong kalau tidak ada juri dari kalangan akademisi,” ungkap Retno Listyarti pada tayangan YouTube Kompas TV.
- Tim tvOne - Dua Sisi
Pihaknya menyalahkan juri yang tidak tepat dalam mengambil keputusan. Retno mengatakan seharusnya aksi protes yang diajukan siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra tidak diabaikan begitu saja.
Dewan juri dapat mengakomodir setiap sanggahan dari peserta dengan melihat tayangan ulang melalui teknologi pada live streaming.
“Salah pertama jelas jurinya. Ini kan sudah ada teknologi dan itu live streaming ‘bisa kita hentikan dulu, yuk kita lihat bareng-bareng’ kan bisa dilakukan, tapi itu tidak dilakukan. Artinya memang ada masalah kan,” jelas Retno.
“Terus kalau kemudian ternyata ‘oh betul jawaban kamu. Berarti kami minta maaf dan kami akan koreksi’, selesai kan sebenarnya urusannya,” sambungnya.
Retno kembali mengingatkan bahwa dalam perlombaan yang sama pada tahun 2025 pernah terjadi aksi protes dari peserta dengan kasus yang sama.
Peserta laki-laki memberikan protes terhadap dewan juri, namun dewan juri memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyanggah keputusan juri.
Juri mengakui kesalahan mereka dan meralat keputusan dengan memberikan poin kepada peserta tersebut.
Sehingga peristiwa ini tidak viral, berbeda dengan Lomba Cerdas Cermat MPR di Kalbar pada tahun ini.
“Nah artinya pernah terjadi. Tetapi kalau pernah terjadi kan seharusnya belajar dari yang sebelumnya. Lah ini kok malah melakukan hal yang justru tidak belajar dari sebelumnya dan malah lebih parah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sikap juri yang bersifat arogan membuat publik geram.
“Kalau kita salah sebagai manusia, biasa kan? Tapi kalau kemudian tidak mengakui, tidak melihat, kemudian bersikap arogansi, itu yang kemudian membuat publik marah,” pungkasnya.
Ketua MPR Sebut Juri Tak Perlu Minta Maaf
Menanggapi polemik ini, MPR RI telah memberikan pernyataan bahwa dewan juri yang menjadi perhatian publik, tidak perlu memberikan permohonan maaf secara langsung.
Kedua juri tersebut yaitu Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Sekretariat Jenderal MPR RI, Dyastasita Widya Budi dan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, Indri Wahyuni.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan jika dua dewan juri LCC Empat Pilar MPR RI ini tidak perlu meminta maaf terkait kekeliruan penilaian mereka.
“Di lembaga MPR kan sudah disampaikan oleh Sekjen. Salah satu pimpinan kita sudah menyampaikan permohonan maaf, jadi itu sudah mewakili keseluruhan termasuk juri, karena ini adalah kegiatan kelembagaan bukan kegiatan perorangan,” ungkap Ahmad Muzani dalam konferensi pers, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Meski begitu, Ahmad Muzani menegaskan kedua juri telah dimintai klarifikasi terkait polemik ini.
(kmr)
Load more