Rupiah Nyaris Rp17.700 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Harga Dalam Negeri Tetap Aman
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terus berada di bawah tekanan dan nyaris menyentuh level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pemerintah memastikan gejolak kurs tersebut tidak akan menjalar menjadi lonjakan harga barang dan inflasi di dalam negeri.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menahan dampak pelemahan rupiah, termasuk menjaga stabilitas harga kebutuhan masyarakat.
Menurut Purbaya, indikator utama yang menjadi pegangan pemerintah adalah inflasi yang tetap rendah di tengah pertumbuhan ekonomi yang justru melaju tinggi pada kuartal I-2026.
“Inflasi juga kita relatif terkendali baik. Ini juga ada yang bilat inflasi double digit, tidak terkendali. Ternyata sampe sekarang baru 2,42 persen jadi infalsi terkendali,” jelas Purbaya saat konferensi pers APBN KITA, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Pernyataan itu disampaikan di tengah tekanan besar terhadap rupiah yang kembali mencatat level penutupan terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31 persen ke posisi Rp17.695 per dolar AS pada perdagangan Selasa.
Sejak awal perdagangan, tekanan terhadap mata uang rupiah memang sudah terlihat. Rupiah dibuka melemah tipis 0,06 persen ke level Rp17.650 per dolar AS sebelum akhirnya sempat menembus area psikologis Rp17.730 per dolar AS dalam perdagangan intraday.
Meski demikian, pemerintah meyakini gejolak kurs belum akan berubah menjadi tekanan harga yang membebani masyarakat. Purbaya menilai kondisi inflasi nasional masih sangat terkendali, bahkan ketika ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I-2026—menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022.
Hingga April 2026, inflasi nasional tercatat berada di level 2,42 persen secara tahunan, masih berada dalam rentang sasaran pemerintah.
Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah tetap mempertahankan kebijakan subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global dan penguatan dolar AS.
“Ini juga membantu daya beli masyarakat kita tidak tergerus. Kenapa? Ini karena upaya pemerintah untuk mengendalikan inflasi bener-bener serius,” tegasnya.
Menurutnya, harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan tetap dijaga hingga akhir tahun meskipun pasar energi global masih bergejolak.
Load more