Dedi Mulyadi Geleng-geleng Kepala Dengar Bukti Kekejaman Ririn Bunuh Satu Keluarga di Indramayu, Bayi Dieksekusi Saat Minum Susu: Gila!
- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Jakarta, tvOnenews.com - Fakta baru dalam kasus pembunuhan satu keluarga di Paoman, Indramayu, Jawa Barat, kembali terungkap dalam persidangan. Pengakuan terbaru soal tewasnya bayi berusia delapan bulan membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM terkejut.
Terdakwa kasus tersebut, Ririn Rifanto dan Priyo Bagus Setiawan, sebelumnya diperiksa atas kematian lima anggota keluarga di Indramayu. Perkara ini sempat menjadi perhatian publik setelah Ririn mengaku mendapat tekanan saat menjalani pemeriksaan polisi.
Dalam sidang sebelumnya, Priyo sempat menyatakan bahwa Ririn tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ia bahkan menyebut empat nama lain sebagai pelaku utama.
Namun pada sidang terbaru, Priyo mencabut seluruh keterangannya dan mengaku memberikan pernyataan itu karena mendapat tekanan dari Ririn.
Priyo kini menyebut Ririn sebagai pelaku utama pembantaian tersebut. Sementara dirinya hanya membantu proses penguburan jasad para korban.
Kakak kandung Priyo, Citra, mengatakan perubahan pengakuan itu terjadi karena adiknya merasa terus diarahkan untuk menanggung kesalahan sendirian. Hal tersebut disampaikan Citra saat berbincang dengan Dedi Mulyadi.
Menurut Citra, sejak awal persidangan Ririn dinilai mulai mengarahkan tuduhan kepada Priyo, termasuk terkait pelarian mereka usai kejadian.
"Kan (Ririn) ditanya hakim kenapa kabur ke sini, 'saya diajak sama Priyo ke Semarang'," kata Citra.
Mendengar itu, Dedi Mulyadi mempertanyakan apakah Ririn sedang membangun narasi bahwa seluruh rencana pelarian dibuat oleh Priyo.
"Jadi seolah-olah yang punya peran pembunuhan ini termasuk menskenariokan lari jadi ABK kapal adalah Priyo?," tanya KDM.
Citra mengaku mulai merasa janggal karena menurutnya Priyo tidak memahami daerah luar kota, termasuk perjalanan ke Semarang maupun Surabaya.
"Iya. Nah dari situ kita berdiskusi sama suami. Masa Priyo bisa tahu Semarang, Surabaya, sedangkan di Cirebon aja dia gak tahu naik apa. Sampe ganti KTP juga katanya Priyo, disuruh Joko," ujarnya.
Karena merasa ada yang tidak beres, Citra kemudian menghubungi tetangganya yang berprofesi sebagai anggota polisi untuk meminta saran terkait pendampingan hukum Priyo.
"Saya telepon A Irfan, tetangga. Ini kasus Priyo tambah ruwet, bisa gak Priyo disaranin ganti pengacara. Karena merasa Priyo mau dikorbanin, kayak tertekan setiap sidang nunduk aja, saya kakaknya kan tahu," tutur Citra.
Load more