Viral Kasus Prihantini dkk Diduga 'Liburan Gratis' Lewat Seminar Dunia, Begini Mekanisme Travel Grant ISPPD
- Instagram/@w.o.d.d
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus dugaan fabrikasi riset berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyeret nama Prihantini dalam forum ilmiah internasional kini menjadi perhatian luas publik dan kalangan akademisi Indonesia. Polemik tersebut mencuat usai sejumlah peneliti Indonesia mengungkap dugaan manipulasi penelitian hingga pemalsuan identitas dalam ajang 14th Meeting of International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD-14) 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Konferensi internasional itu berlangsung pada 17–21 Mei 2026 dan dihadiri para peneliti dari berbagai negara yang fokus pada studi pneumonia dan pneumokokus. Di tengah viralnya kasus tersebut, perhatian publik juga tertuju pada mekanisme Travel Grant ISPPD yang disebut sangat kompetitif dan tidak mudah diperoleh.
Sorotan muncul setelah sejumlah peneliti muda Indonesia mengaku gagal memperoleh bantuan dana perjalanan tersebut, sementara grup Prihantini justru berhasil mendapatkan posisi strategis dalam forum ilmiah, termasuk sesi oral presentation dan e-poster spotlight yang dikenal sangat selektif.
Salah satu peneliti Indonesia yang hadir langsung dalam konferensi tersebut adalah Hanifah Fajri Maharani Putri. Ia mengaku awalnya kagum karena grup Prihantini mampu menembus sesi presentasi bergengsi dalam ISPPD.
“Di ISPPD itu susah banget untuk dapat oral presentation, apalagi kalau bisa dapat oral dan spotlight bersamaan,” ujar Hanifah dalam wawancara eksklusif bersama tvOnenews.com.
Travel Grant ISPPD Disebut Diprioritaskan untuk Peneliti Muda
Hanifah menjelaskan bahwa Travel Grant ISPPD pada dasarnya memang dirancang untuk membantu mahasiswa dan peneliti muda yang memiliki keterbatasan dana agar tetap bisa menghadiri konferensi internasional tersebut.
Menurutnya, program tersebut bukan bantuan yang mudah diperoleh karena ada sejumlah tahapan seleksi ketat yang harus dilalui peserta.
“Biasanya travel grant ini memang ditujukan untuk mahasiswa atau peneliti muda yang tidak punya dana untuk berangkat,” kata Hanifah.
Ia menyebut supervisor atau peneliti senior umumnya sulit memperoleh bantuan tersebut karena prioritas utama diberikan kepada peneliti muda dan peserta dari negara tertentu.
Hanifah bahkan mengungkap dirinya dan salah satu awardee lainnya bernama Ratna Fathma Sari pernah menjadi salah satu penerima travel grant ISPPD pada 2024, sehingga memahami secara langsung alur seleksi dan mekanisme pendanaannya.
Load more