Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hadiri High-Level Super Pollutant Reception Bersama Raja Charles III
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com – Di sela-sela padatnya agenda London Climate Action Week (LCAW) 2026, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, memenuhi undangan kehormatan untuk hadir dalam acara High-Level Super Pollutant Reception yang diselenggarakan di Istana St James's, London, pada Rabu (24/6).Â
Acara eksklusif ini turut dihadiri oleh Raja Charles III, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, serta sejumlah pemimpin dunia dan tokoh lingkungan global
Fokus utama dari pertemuan tingkat tinggi ini adalah percepatan aksi global dalam menekan emisi "super-pollutants" atau polutan super, dengan perhatian khusus pada gas metana.
 Gas metana dikenal sebagai polutan super karena menyumbang hampir sepertiga dari pemanasan global yang terjadi saat ini.Â
Namun, berbeda dengan karbon dioksida yang bertahan lama di atmosfer, metana dapat terurai dalam satu atau dua dekade. Oleh karena itu, pengurangan emisi metana dianggap sebagai cara tercepat untuk memperlambat laju pemanasan global.
Menteri LH Mohammad Jumhur Hidayat memandang, isu polutan super ini sangat relevan dengan tantangan domestik yang dihadapi Indonesia.Â
Dalam pandangannya, penanganan emisi metana tidak hanya sebatas pada sektor energi dan bahan bakar fosil, melainkan sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya pengelolaan limbah makanan (food waste management).
"Kehadiran kita di forum ini menegaskan komitmen Indonesia bahwa kita tidak hanya berfokus pada transisi energi, tetapi juga pada aksi-aksi nyata di sektor pengelolaan limbah. Gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah, terutama sisa makanan, adalah ancaman senyap yang harus kita tangani segera," ujar Menteri LH di sela-sela acara tersebut.
Dalam resepsi tersebut, Raja Charles III secara khusus mengunjungi instalasi 'Methane Takeaway' yang digagas oleh The Waste and Resources Action Programme (WRAP).Â
Instalasi ini menyajikan 'global meal deal' yang mendemonstrasikan bagaimana pengurangan limbah makanan merupakan salah satu solusi paling cepat dan hemat biaya untuk memangkas emisi metana.
Menteri Jumhur menekankan bahwa Indonesia telah memasukkan strategi pengurangan metana dari sektor limbah ke dalam kerangka kebijakan nasional.Â
"Tumpukan sampah organik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kita adalah sumber utama gas metana. Kita sedang mendorong kebijakan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir. Mengurangi food waste bukan sekadar soal lingkungan, tapi juga ketahanan pangan dan kesadaran mutlak dari pola perilaku ekonomi masyarakat kita" tambahnya.
Sejalan dengan seruan Sekjen PBB António Guterres dalam acara tersebut, yang menekankan perlunya memangkas limbah makanan, menghentikan pembuangan sampah terbuka (open dumping), dan menangkap emisi dari TPA, Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia berkomitmen untuk memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah di tingkat daerah.Â
Hal ini juga selaras dengan Subnational NDC Roadmap yang telah disiapkan pemerintah, di mana setiap provinsi diwajibkan memiliki target terukur dalam mengelola emisi dari sektor limbah.
Pertemuan di Istana St James's ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengukuhkan posisi tawar di panggung iklim internasional. Dengan mengedepankan solusi berbasis masyarakat seperti pengelolaan limbah makanan, Indonesia menunjukkan bahwa aksi pengendalian emisi tidak selalu membutuhkan teknologi mahal, melainkan dapat dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari dan perbaikan tata kelola persampahan.
Load more