Tragedi Pilu di Sampang: Gadis 15 Tahun Dirudapaksa 27 Pria, Begini Pandangan Kriminolog
- tvOnenews.com/Wildan Mustofa
Jakarta, tvOnenews.com - Kriminolog Adrianus Meliala turut membicarakan tragedi pilu di Sampang, Jawa Timur. Ia tidak bisa berkata-kata lagi mendengar seorang gadis perempuan 15 tahun mengalami pemerkosaan oleh 27 pria.
"Saya speechless enggak bisa ngomong lagi ini melihat kasusnya. Masa anak wanita diperkosa oleh pelaku yang juga masih di bawah umur," ujar Adrianus saat dihubungi tvOne, Rabu (15/7/2026).
Adrianus membagikan pandangannya. Ia mengatakan ada dua hal pelajaran yang diambil dalam kasus remaja perempuan 15 tahun dirudapaksa oleh 27 pria di Kabupaten Sampang.
Hal pertama, kata Adrianus, mengacu pada nafsu seksual. Kriminolog itu menyebut bahwa bagian ini biasanya telah tumbuh sejak usia muda sebelum memasuki usia matang.
"Dengan kata lain tidak usah menunggu sampai usia matang. Sejak akil balik pun sebetulnya drive secara seksual itu sudah ada," katanya.
- tvOneNews
Permasalahan yang sering terjadi ketika seseorang belum mampu mengatur hasrat seksualnya. Fenomena seperti ini kerap dialami oleh mereka akibat tidak bisa mengontrol diri.
Menurut Adrianus, hasrat yang muncul dan tidak bisa mengontrol diri rentan terjadinya perilaku seksual secara sembarangan.
Adrianus kemudian membagikan hal yang kedua. Bagian ini menyangkut tentang anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok sebagaimana dalam kasus pencabulan gadis 15 tahun di Sampang.
Ia berpendapat anak-anak muda dalam kelompok tentu mempunyai sikap yang jauh lebih berani melakukan tindakan seksual secara sembarangan.
"Mereka lebih berani dalam rangka berbuat sesuatu ketimbang kalau dia sendirian. Maka yang pertama dan kedua ini ketemu nih. Pertama, dia sudah punya kebutuhan seksual, kemudian enggak berani melakukannya sendirian, tapi karena bersama-sama maka dia berani melakukannya terhadap seorang perempuan," jelasnya.
Lanjut Adrianus, jiwa kelompok dimiliki anak-anak muda rentan mendorong menghilangkan kesadaran personal mereka. Karena selalu bersama-sama, mereka menganggap orang yang sebagai objek dipermainkan mereka.
"Andaikan saja anggota-anggota kelompok ini bertemu sendirian, maka tentu lain cerita. Ketika bertemu dalam konteks kelompok, maka yang ada pada pikiran mereka adalah bagaimana mengeksploitasi si korban secara sosial maupun mungkin secara omongan-omongan tapi juga secara seksual," terangnya.
Load more