Jadi Pendiri WAICO, Airlangga Ungkap Potensi Cuan Ekonomi Digital Capai US$2 Triliun
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com – Bergabungnya Indonesia sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) diyakini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola kecerdasan artifisial (AI) global, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah menilai pemanfaatan AI akan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, WAICO dibentuk dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sehingga organisasi tersebut memiliki legitimasi internasional dalam menyusun arah pengembangan AI yang inklusif dan bertanggung jawab.
“WAICO ini dibentuk dalam framework United Nation. Oleh karena itu dalam kerangka UN, Sekretaris Jenderal daripada UN hadir,” ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Airlangga, keterlibatan Indonesia sebagai founding member akan memberikan manfaat strategis, terutama untuk memastikan pengembangan AI berjalan selaras dengan kepentingan nasional sekaligus mendorong percepatan ekonomi digital.
“Dan tentu bagi Indonesia ini akan bermanfaat agar pengembangan AI itu sejalan secara global dan juga ini sangat bermanfaat untuk pengembangan digital ekonomi,” katanya.
Airlangga mengungkapkan, dengan skenario business as usual, implementasi AI diproyeksikan mampu menyumbang nilai ekonomi hingga US$400 miliar bagi Indonesia pada 2030.
Potensi tersebut dinilai akan semakin besar apabila didukung implementasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di kawasan ASEAN.
“Jadi kalau kita ketahui bahwa AI ini mempunyai potensi untuk menyumbang pendapatan bagi Indonesia business as usual di tahun 2030 sampai US$400 miliar. Tetapi dengan diimplementasikannya Digital Economy Framework, nah ini akan meningkat menjadi US$2 triliun,” jelasnya.
Ia menambahkan, Indonesia juga telah menunjukkan kemajuan dalam integrasi ekonomi digital kawasan, salah satunya melalui sistem pembayaran lintas negara berbasis QRIS yang kini dapat digunakan di sejumlah negara ASEAN, bahkan telah diperluas hingga Korea Selatan dan Jepang.
“Indonesia salah satu yang juga menggunakan adalah untuk payment system misalnya dengan QRIS. Itu sudah bisa menggunakan Rupiah di beberapa negara ASEAN, bahkan juga bisa digunakan di Korea maupun di Jepang,” ujarnya.
Load more