Berkaca dari Pencuri Ayam di Bali Tewas Dihajar Massa, Pengamat Sosial Soroti Tegas 'Normalisasi Kekerasan'
- tvOneNews
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat sosial, Devie Rahmawati menyoroti peristiwa pilu seorang pria berinisial KD, terduga pencuri ayam aduan di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
Peristiwa terduga pencuri ayam diamuk massa terjadi pada Jumat (24/7/2026), sekitar pukul 01.30 Wita. Aksi main hakim sendiri oleh warga membuat KD tewas hingga video anaknya menangis viral di media sosial.
Video massa tengah mengamuk mencuri perhatian publik. Devie Rahmawati coba menguraikan tentang aksi main hakim sendiri sehingga memicu pandangan menormalisasi kekerasan yang kini ramai diperbincangkan di ruang jagat maya.
Menurut Devie, aksi main hakim sendiri tidak bisa dilihat semata-mata sebagai ledakan kemarahan individual, baik terjadi secara sesaat maupun berkepanjangan.
"Ini sebuah peristiwa sosial yang terjadi ketika tiga hal bertemu sekaligus," ujar Devie saat dihubungi tvOne, Selasa (28/7/2026).
- Tangkapan Layar IG Info Berita Bali
Ia menuturkan ketiga hal yang bertemu dalam satu waktu sebagai pemicu aksi main hakim sendiri. Pertama menyangkut terkait individu maupun kelompok telah melabeli seseorang sangat buruk.
"Adanya cap terhadap seseorang sebagaiorang jahat. Lalu kemudian, hadirnya kerumunan yang saling menguatkan dan munculnya keyakinan bahwa kekerasan tersebut akan dibenarkan oleh kelompok," terangnya.
Ia menyebut fase ini disebut deindividualisasi. Momen tersebut berlangsung ketika seseorang kehilangan kesadaran pribadi untuk bertanggung jawab lantaran berlindung di balik identitas massa.
"Masalah terbesarnya adalah ketika masyarakat dalam kerumunan itu tidak lagi melihat orang yang dituduh sebagai manusia, tetapi sebagai orang yang dicap sebagai pencuri, pelaku, atau orang jahat," bebernya.
Menurutnya, terduga pelaku telah dicap buruk. Hal ini membuat KD dinilai sebagai pencuri, pelaku hingga orang jahat menyebabkan hewan ternak warga sekitar hilang secara misterius.
"Inilah makanya kekerasan massa itu justru dimulai ketika seseorang berhenti dipandang sebagai manusia dan hanya dipandang sebagai kesalahannya," bebernya.
Bagi Devie, hal yang perlu ditelaah lebih dalam bukan hanya berasal dari satu peristiwa kekerasan saat massa menghajar terduga pelaku. Kekhawatiran terjadi pada proses dari normalisasi kekerasan.
"Apalagi ketika masyarakat mulai berkata, 'wajar dipukul' atau misalnya, 'pantaslah dihajar', atau misalnya 'biarin aja biar kapok'," tuturnya.
Load more