Pesan Prabowo ke Anak Muda: Bangsa yang Tidak Mengerti Sejarah akan Dihukum Oleh Sejarah
- Youtube/Setpres
Jakarta, tvOnenews.com – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan, generasi muda Indonesia agar tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah penting agar Indonesia mampu membaca perilaku bangsa lain dan tidak kembali menjadi korban dalam percaturan dunia.
Prabowo menilai Indonesia saat ini telah memasuki fase sebagai bangsa dan negara yang lebih matang. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju kemerdekaan tidak berlangsung mudah dan membutuhkan perjuangan panjang.
“Sekarang kita sudah lebih matang sebagai negara, sekarang kita sudah lebih matang sebagai bangsa. Kita termasuk bangsa yang relatif muda. Tahun ’45 kita proklamasikan kemerdekaan kita tapi dilanjutkan perang, perang 5 tahun,” kata Prabowo, saat memberikan sambutan pada acara Peluncuran Motor Listrik Nasional di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).
Menurut Prabowo, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Indonesia masih harus menghadapi upaya untuk menggagalkan pemerintahan yang baru berdiri.
“Perang 5 tahun berhasil kita rebut kemerdekaan kita. Tapi penjajah juga tidak begitu rela ninggalin kita, sehingga begitu merdeka, dalam minggu-minggu pertama kita merdeka, mereka lancarkan kudeta terhadap pemerintah yang baru. Dua minggu sesudah penyerahan kedaulatan,” ujarnya.
Prabowo kemudian secara khusus mengajak anak-anak muda untuk mempelajari sejarah Indonesia.
Ia menilai sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi menjadi bekal untuk memahami tantangan yang dihadapi bangsa pada masa kini dan masa depan.
“Saudara-saudara, terutama anak-anak muda, belajarlah sejarah. Bangsa yang tidak mengerti sejarah akan dihukum oleh sejarah,” tegas Prabowo.
Presiden mengatakan pemahaman sejarah juga diperlukan untuk membaca kepentingan dan perilaku negara lain terhadap Indonesia. Tanpa pemahaman tersebut, Indonesia berpotensi mengulangi kesalahan dan kembali berada dalam posisi yang dirugikan.
“Kalau kita tidak mengerti bagaimana perilaku bangsa-bangsa lain terhadap kita, kita mungkin selalu akan jadi korban,” kata Prabowo.
Menurutnya, mempelajari sejarah bukan berarti menumbuhkan permusuhan terhadap bangsa lain. Indonesia, kata Prabowo, tetap harus mempertahankan karakter sebagai bangsa yang ramah dan terbuka.
Prabowo menegaskan dirinya tidak pernah mengajak masyarakat untuk membenci bangsa lain. Sikap ramah dan kebaikan, menurutnya, merupakan karakter yang melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia.
“Saudara-saudara, tidak pernah saya mengajak kita untuk membenci bangsa lain, tidak. Sifat bangsa kita adalah justru sangat ramah. Kita terkenal dengan keramahan kita, kebaikan kita. Itu adalah DNA kita, itu adalah memang sifat kita,” ujarnya.
Namun, Prabowo mengingatkan keramahan tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai kelemahan oleh bangsa lain.
Ia menyoroti persepsi eksternal yang menilai Indonesia sebagai negara yang terlalu lunak dalam menghadapi kepentingan pihak lain.
“Sifat yang seperti ini dianggap oleh bangsa-bangsa lain sifat yang lemah. We are considered the soft state,” kata Prabowo. (agr/dpi)
Load more