Krisis Iklim Ancam Masa Depan Pendidikan Anak Perempuan, Plan Indonesia: Kalau Orangtua Gagal Panen, Anak Bisa Bisa Dinikahkan Dini
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti menyatakan bahwa krisis iklim tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan dan stabilitas ekonomi, tetapi juga mengancam masa depan pendidikan anak perempuan.
Menurutnya, fenomena kekeringan ekstrem memaksa anak perempuan menghabiskan waktu lebih lama untuk mencari air, yang berujung pada keterlambatan sekolah hingga risiko putus sekolah (drop out).
Mengingat selama ini hanya terjadi pada koordinasi antarlembaga seperti Bappenas, BMKG, dan Kementerian Sosial yang dinilai masih terlalu fokus pada aspek sektoral seperti ketersediaan air dan pertanian.
"Semua bicara sektor. Bagaimana dampak El Nino terhadap air bersih, sumber air, agriculture. Tapi tidak ada yang melihat orangnya. Padahal dampak sosial ini sering kali luput dari pembahasan kebijakan perubahan iklim," ujar Dini dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).
Berdasarkan data jangka panjang di Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat temuan ini bahwa terdapat korelasi kuat antara musim kemarau panjang dengan penurunan partisipasi sekolah anak perempuan.
Salah satunya beban domestik untuk mengambil air sebelum berangkat sekolah membuat mereka sering terlambat, tertinggal pelajaran, hingga kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Kemudian, Riset Girls in Crisis Research 2026 yang dilakukan di Aceh Tamiang, Agam, dan Tapanuli Utara menunjukkan kondisi serupa. Sebanyak 15,45 persen anak perempuan berada dalam risiko putus sekolah setelah pendapatan rumah tangga mereka terdampak bencana.
Selain itu, riset global For Our Futures (2023) mencatat 98 persen anak perempuan khawatir perubahan iklim akan merusak akses pendidikan mereka.
Dini juga menyebutkan, keluarga dengan kondisi ekonomi marginal memiliki kerentanan ganda, karena ketika gagal panen terjadi akibat iklim, anak perempuan berisiko tinggi menghadapi perkawinan anak sebagai jalan pintas ekonomi keluarga.
"Kalau orang tuanya gagal panen, bisa langsung berujung drop out atau dinikahkan dini," terangnya.
Sementara, Chief Impact Officer Plan International, Pete Manfield, menambahkan bahwa pentingnya respons bencana yang terintegrasi dan berpusat pada manusia, bukan sekadar program teknis seperti WASH atau kesehatan.
Dia mendorong penguatan kapasitas anak perempuan agar terlibat langsung dalam advokasi dan pengambilan kebijakan.
Load more