Merebak Kabut Asap Sepekan Terakhir, Kasus ISPA di Pontianak Meningkat 10 Persen
- istimewa - antaranews
Pontianak, tvOnenews.com -Menyusul kemunculan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 5-10 persen dalam sepekan terakhir.
“Berdasarkan data, memang mulai minggu kemarin sampai minggu ini ada peningkatan kasus ISPA, kira-kira 5-10 persen peningkatannya dari kasus harian,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko, di Pontianak, Selasa.
Saptiko mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan, membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap semakin pekat. Kelompok rentan yang dimaksud Saptiko antara lain orang lanjut usia, ibu hamil, bayi, balita, serta masyarakat yang memiliki penyakit asma dan jantung.
Sementara bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, dia mengingatkan agar terus menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel dari udara yang tercemar asap.
Namun, dia mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor dan tidak hanya oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan saja.
“Kami tidak bisa membedakan apakah itu kasus ISPA karena asap atau bukan. ISPA itu banyak faktor lain yang menyebabkan. Tapi indikasi dengan adanya asap, ada peningkatan kasus ISPA,” ujarnya.
Selain ISPA, Saptiko menyebut masyarakat dengan riwayat asma juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Kondisi udara yang buruk akibat kabut asap dapat memicu serangan asma pada penderita.
“Biasanya asma. Kasus asma meningkat karena pada orang yang punya asma, asap mencetuskan timbulnya serangan pada mereka,” katanya.
Kualitas air
Saptiko juga menyampaikan kondisi air yang digunakan masyarakat selama musim kemarau belum menunjukkan dampak terhadap peningkatan penyakit terkait air.
Menurut dia, sebagian besar masyarakat Kota Pontianak menggunakan air galon yang secara rutin dipantau kebersihan dan kesehatannya.
“Kalau saya lihat, untuk penyakit terkait kualitas air tidak ada masalah, tidak ada kenaikan. Masyarakat Kota Pontianak sebagian besar menggunakan galon,” katanya.
Dinas Kesehatan Pontianak, lanjutnya, melakukan pemantauan terhadap usaha pengisian ulang air galon untuk memastikan aspek kebersihan dan kesehatan produk.
Namun, masyarakat yang menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari diminta lebih berhati-hati, terutama karena kondisi hujan pada musim kemarau cenderung tidak menentu dan air hujan pertama berpotensi membawa kotoran dari udara maupun permukaan penampungan.
“Sebaiknya, waktu hujan yang pertama itu jangan digunakan karena masih kotor,” ujarnya.
Terkait penggunaan air payau dan asin untuk kebutuhan tertentu, Saptiko mengatakan kondisi tersebut tidak secara langsung menimbulkan masalah kesehatan pada kulit.(ant)
Load more