Karhutla Membayangi Kalimantan, Kualitas Udara Menurun hingga Jarak Pandang di Bawah 1 Kilometer
- Mayawana Persada.
Operasi darat telah memadamkan kebakaran di area seluas 87,22 hektare. Sementara melalui operasi udara, sebanyak 188 ribu liter air dijatuhkan dalam empat sorti penerbangan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan dengan menebarkan 800 kilogram garam untuk mendorong pembentukan hujan di wilayah yang kondisi awannya memungkinkan.
Di tengah operasi tersebut, masih terdapat 23 lokasi di Kota Palangka Raya yang belum padam. Personel dan peralatan diprioritaskan untuk menangani titik-titik tersebut sekaligus melakukan pendinginan berulang guna mencegah api kembali muncul.
Kalbar Hadapi Dampak Asap Terberat
Di Kalimantan Barat, operasi darat telah memadamkan kebakaran di area seluas 262,7 hektare.
Enam sorti pengeboman air juga dilakukan dengan menjatuhkan total 724 ribu liter air untuk menangani area seluas 11,5 hektare. Sementara OMC dilakukan dalam dua sorti dengan menebarkan 1.600 kilogram garam.
Namun, persoalan di Kalimantan Barat bukan hanya kebakaran. Kualitas udara di sejumlah wilayah yang telah mencapai kategori berbahaya dan jarak pandang kurang dari satu kilometer menunjukkan besarnya dampak asap terhadap aktivitas masyarakat.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan masker, menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi kualitas udara, serta mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.
Riau dan Jambi Mulai Membaik
Berbeda dengan kondisi di Kalimantan, situasi karhutla di sejumlah wilayah Sumatera mulai menunjukkan perbaikan.
Riau tercatat memiliki empat titik api dengan jarak pandang lebih dari 9 kilometer. Jambi mencatat 13 titik api dengan jarak pandang sekitar 2,8 kilometer, sedangkan Sumatera Selatan memiliki 13 titik api dengan jarak pandang kurang dari 2 kilometer.
Meski demikian, operasi pemadaman dan pemantauan masih dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Secara keseluruhan, penanganan karhutla saat ini dipusatkan di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Lahan gambut yang mudah kembali terbakar, angin kencang, keterbatasan sumber air hingga pertumbuhan awan yang tidak merata masih menjadi tantangan dalam operasi di lapangan.
Kondisi tersebut membuat pemadaman tidak cukup dilakukan satu kali, tetapi harus diikuti pendinginan dan pengawasan untuk memastikan api tidak kembali muncul.Â
Load more