P2MI Bongkar Modus Sindikat Jerat Pekerja Migran, 7.908 Iklan Lowongan Kerja Fiktif Ditutup
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) kini memperketat pengawasan melalui Unit Patroli Siber untuk memburu iklan maupun konten digital yang menawarkan lowongan kerja fiktif.
Wakil Menteri P2MI Christina Aryani mengatakan, patroli tersebut dilakukan untuk mendeteksi sejak awal konten yang berpotensi menyesatkan dan membahayakan calon pekerja migran.
“Kita ada unit Patroli Siber yang kerjanya memonitor iklan-iklan lowongan kerja fiktif, yang biasanya dikemas sedemikian lupa sehingga menarik, yang sebetulnya ini juga masyarakat harus mewaspadai,” jelas Christina dalam konferensi pers, di Kantor Bakom, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Pengawasan siber itu menunjukkan hasil signifikan. Sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, Kementerian P2MI telah menyampaikan 10.504 laporan tautan yang diduga berkaitan dengan lowongan kerja fiktif kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.908 tautan atau sekitar 78 persen telah ditindaklanjuti dengan proses penurunan atau takedown.
Mekanismenya dilakukan dengan meneruskan setiap tautan yang ditemukan Unit Patroli Siber dan dinilai berpotensi terkait lowongan kerja fiktif kepada Komdigi untuk diproses lebih lanjut.
Namun, Christina menegaskan penutupan ribuan tautan tersebut bukan berarti persoalan selesai. Pola penyebaran iklan fiktif dinilai dinamis karena konten yang telah diturunkan dapat kembali muncul melalui tautan, akun, atau kanal digital berbeda.
“Tapi seperti teman-teman tahu, satu takedown, besok muncul lagi satu. Jadi memang ini harus terus-terusan, harus continue, kita tidak bisa berhenti,” tegasnya.
Karena itu, patroli siber harus dilakukan secara berkelanjutan untuk memutus rantai perekrutan sejak dari ruang digital. Pemerintah juga meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan pengawasan negara, tetapi ikut mengenali ciri-ciri tawaran kerja yang mencurigakan.
Christina mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran bekerja di luar negeri yang terlihat terlalu mudah, menawarkan penghasilan besar, tetapi tidak memberikan informasi yang jelas mengenai prosedur keberangkatan maupun pekerjaan.
Sebab, tawaran semacam itu dapat menjadi pintu masuk menuju praktik penempatan pekerja migran secara nonprosedural dan bahkan berujung pada keterlibatan korban dalam sindikat kejahatan di luar negeri.
Load more