Masyarakat Papua Minta Pemerintah Tindak Tegas OPM
- Ist
Jakarta, tvOnenews.com - Tindakan tegas aparat penegak hukum terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), mendapat dukungan dari masyarakat serta tokoh adat dan rohaniawan Papua.
Kirenius Telenggen, Tokoh Agama Nasrani Puncak Jaya Provinsi Papua Tengah, mengungkap aksi kekerasan yang dilakukan OPM tidak hanya menyasar warga pendatang maupun warga negara asing dan akttifis rohani, tetapi juga semakin mengancam orang asli Papua (OAP).
“Seperti aksi pembunuhan terhadap Captain Nicholas F Goselin, pilot pesawat PT AMA berwargakenegaraan Amerika Serikat yang melayani kebutuhan ibadah umat di pelosok Papua. Ini kan memberikan dampak buruk terhadap citra khususnya umat nasrani Papua di mata masyarakat internasional,” kata Kirenius saat dihubungi wartawan, Sabtu, (5/9/2026).
Ditambah lagi beragam bentuk teror, kekerasan hingga pembunuhan terhadap warga asli papua, terutama yang menolak ikut bergabung ke dalam kelompoknya akhir-akhir ini, lanjut Kirenius, justru membuat OPM semakin kehilangan simpati dan dijauhi oleh masyarakat, khususnya orang asli Papua.
“Karena itulah, kami masyarakat khususnya orang asli Papua, memiliki pandangan status OPM harus dijadikan sebagai kelompok teroris, karena semua tindak-tanduk mereka selama ini di Papua sudah sangat jelas mengancam kedaulatan negara, keselamatan jiwa rakyat dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.
Sesepuh masyarakat Papua ini menilai tindakan tegas yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum, dalam hal ini TNI-Polri, sudah sangat tepat, mengingat akhir-akhir ini bukan hanya warga luar Papua atau warga negara asing yang menjadi target, namun kini kami orang asli Papua menjadi buruan atau target OPM.
Eskalasi kekerasan OPM dikarenakan kelompok sparatis ini merasa masyarakat sudah tidak lagi mendapat dukungan masyarakat, ditambah lagi mulai banyak anggota mereka yang memilih kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi karena tak tahan melihat perilaku kejam kelompoknya, dan mereka ingin hidup normal layaknya warga di desa maupun di kota.
“Masyarakat kini semakin pintar. Kita tahu kemajuan dan kesejahteraan masyarakat dan daerah diperoleh melalui pendidikan yang baik dan pembangunan seluruh sektor di Papua, bukan dengan aksi teror apalagi membunuh bangsa sendiri,” jelasnya.
Masyarakat Papua meminta pemerintah dalam hal ini aparat penegak hukum untuk tegas dengan organisasi atau front politik OPM, yakni Komite Nasional Papua Barat (KNPB), mengingat aksi demo dan aksi yang mereka lakukan selama ini, jelas menjurus ke makar.
“Selain itu, jangan biarkan propaganda dari luar, seperti konten hate speech yang dibuat oleh oknum influencer asal Israel yang mengajak anak-anak muda Papua untuk melawan bangsanya sendiri, membunuh saudaranya sendiri dan berkhianat pada negerinya sendiri, berseliweran di media sosial. Ini juga tidak boleh dibiarkan,” pungkasnya.
Kirenius Telenggen mengajak masyarakat yang masih mengikuti gerakan separatisme dan teroris OPM, untuk segera kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tokoh umat nasrani ini menikai sudah cukup aksi kejahatan yang bukan hanya melukai nilai-nilai kemanusiaan, namun juga menciderai agama, adat, budaya leluhur Papua.
“Mari kita bangun Papua, kita sekolahkan anak-anak kita, dan kita gas beragam program pembangunan manusia dan daerah, agar kita dapat hidup makmur, aman dan damai,” pungkasnya.
Empat anggota kriminal bersenjata (KKB) yang tewas ditembak polisi di Kabupaten Yahukimo Papua Pegunungan, diduga terlibat dalam berbagai aksi kejahatan. Salah satunya diduga terlibat pembunuhan dua warga sipil pada 2023 silam.
"Penindakan tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam sejumlah tindak pidana di wilayah Yahukimo," ungkap Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Yusuf Sutejo dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Salah satunya berkaitan dengan DPO Nomor DPO/10/V/2023/Reskrim terkait dugaan tindak pidana pembunuhan terhadap almarhum Yonathan Arruan dan almarhum Asri Obet. Pembunuhan itu terjadi di Jalan Statistik, Distrik Dekai, Yahukimo, 30 April 2023.
Load more