Sekda Muara Enim Diperiksa KPK Terkait Kasus Bupati Edison
- tvOnenews.com/Aldi Herlanda
Jakarta, tvOnenews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Sekretaris Daerah (Sekda) Muara Enim, Yulius, Kamis (10/9/2026).
Pemeriksaan dilakukan untuk dimintai keterangannya dalam dugaan kasus suap terkait pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
"Pemeriksan dilakukan di kantor BPKP perwakilan Provinsi Sumatera Selatan," ucap juru bicara KPK, Budi Prasetyo.
Tak hanya Sekda, penyidik juga memeriksa sejumlah saksi lainnya yaitu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Muara Enim Tarmizi Ismail, aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim berinisial FIZ, YOV, EFR, DW, dan ERW, serta IS selaku pihak swasta.
Hingga saat ini pemeriksaan terhadap para saksi masih dilakukan guna membuat terang kasus yang menjerat Bupati nonaktif Edison.
Diketahui, Bupati Muara Enim Edison telah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap pengadaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muara Enim.
Tak sendiri, Edison ditetapkan sebagai tersangka bersama Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2026 Abi Nurwardani, Keponakan Bupati Adi Triyadi, Marketing PT Millenium Solusi Abadi Cory Erin Hardi.
Dalam kasus suap pengadaan itu, KPK turut mengamankan saldo yang berada di dalam rekening yang diduga milik Edison dan juga uang tunai yang jumlah totalnya hampir Rp2 miliar.
"Memang para pihak ini menyiapkan rekening penampungan untuk menampung terkait dengan dugaan penerimaan dari pihak swasta, berkaitan dengan pengadaan-pengadaan" ucap juru bicara KPK, Budi Prasetyo, Rabu (10/6/2026).
Budi juga mengungkapkan, bahwa sang Bupati melakukan modus buka tutup rekening untuk mengumpulkan uang-uang tersebut.
"Modus buka tutup rekening. Artinya, membuka rekening untuk penampungan, nanti rekening itu sudah habis, sudah didistribusikan, buka lagi dengan rekening baru," ungkapnya.
Adapun terkait dengan penyitaan, KPK mengamankan uang dengan total hampir mencapai Rp2 miliar, yang terdiri dari sejumlah mata uang seperti Rupiah, Dolar dan juga Riyal.(aha/raa)
Load more