Blue Fire Muncul di Kawah Manuk Papandayan, Gas SO2 Tembus 230 ppm
- Istimewa
Garut, tvOnenews.com - Fenomena api biru atau blue fire muncul di kawasan Kawah Manuk, Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan fenomena tersebut dipicu keluarnya gas vulkanik bersuhu tinggi dengan konsentrasi yang berada di atas ambang batas normal.
Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati mengatakan fenomena blue fire di Gunung Papandayan telah teramati sejak 24 September 2026.
Fenomena tersebut terjadi ketika gas belerang bersuhu tinggi yang keluar dari retakan fumarol mengalami reaksi kimia dengan oksigen di udara bebas. Reaksi tersebut kemudian menghasilkan nyala api berwarna kebiruan yang terlihat di sekitar kawasan kawah.
Temuan di lapangan menunjukkan fenomena tersebut berkaitan dengan kondisi gas vulkanik yang perlu diwaspadai karena konsentrasinya telah melampaui batas aman bagi kesehatan.
Konsentrasi Gas Vulkanik Melebihi Batas Aman
Tim ahli Badan Geologi telah melakukan pemeriksaan langsung di kawasan Gunung Papandayan untuk mengetahui kondisi gas vulkanik yang menyebabkan munculnya blue fire.
Dari pemeriksaan tersebut ditemukan adanya pelepasan sejumlah gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi. Salah satunya adalah Sulfur Dioksida (SO2) yang tercatat mencapai 230 ppm.
Selain itu, konsentrasi Hidrogen Sulfida (H2S) juga terukur mencapai 120 ppm.
Kondisi suhu dan konsentrasi gas yang sangat tinggi tersebut dinilai mampu membakar material belerang yang menempel di sekitar dinding kawah.
Dengan demikian, kemunculan api biru di Kawah Manuk bukan sekadar fenomena visual. Kondisi gas vulkanik yang menyertainya menjadi faktor penting yang membuat kawasan tersebut perlu mendapatkan perhatian dari pengunjung dan pendaki.
Bukan Pertama Kali Blue Fire Terjadi di Papandayan
PVMBG menyebut fenomena blue fire di Gunung Papandayan bukan kejadian yang baru pertama kali ditemukan.
Badan Geologi mencatat fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi di Kawah Baru pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025.
Sementara pada 2026, fenomena blue fire kembali teramati, kali ini berada di kawasan Kawah Manuk.
"Fenomena blue fire di Papandayan ini sebetulnya bukan yang pertama kali. Badan Geologi mencatat fenomena serupa pernah terjadi di Kawah Baru pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025, sedangkan tahun 2026 ini ditemukan di Kawah Manuk," kata Rita.
Kemunculan blue fire tersebut berkaitan dengan terpenuhinya kondisi tertentu, terutama suhu dan konsentrasi gas vulkanik di kawasan kawah aktif.
Berbeda dengan Blue Fire Gunung Ijen
Rita menjelaskan fenomena blue fire di Gunung Papandayan memiliki perbedaan dengan fenomena serupa yang dikenal di Gunung Ijen.
Menurut dia, Gunung Ijen memiliki solfatar dengan kadar belerang tinggi yang berlangsung secara konstan. Sementara itu, fenomena blue fire di Gunung Papandayan tergolong langka dan hanya muncul ketika parameter suhu serta konsentrasi gas memenuhi kondisi tertentu.
Perbedaan tersebut membuat kemunculan blue fire di Papandayan tidak terjadi secara terus-menerus.
Fenomena api biru baru dapat terlihat ketika gas vulkanik bersuhu tinggi yang keluar dari retakan fumarol mengalami reaksi dengan oksigen di udara dan kondisi lingkungan mendukung terjadinya pembakaran material belerang.
PVMBG Tetapkan Jarak Aman 500 Meter
Menyusul temuan konsentrasi gas vulkanik yang tinggi, PVMBG menetapkan rekomendasi jarak aman bagi masyarakat di sekitar kawah aktif Gunung Papandayan.
Pengunjung dan pendaki direkomendasikan menjaga jarak sejauh 500 meter dari kawah aktif Gunung Papandayan.
Selain itu, PVMBG melarang aktivitas berkemah di area yang sensitif terhadap paparan gas tersebut. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keselamatan pengunjung dan pendaki yang berada di kawasan Gunung Papandayan.
Rita mengatakan masyarakat tetap dapat menikmati fenomena blue fire, tetapi harus memperhatikan rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.
"Kita memang boleh menikmati fenomena tersebut, tetapi mohon diperhatikan juga rekomendasi tersebut ya demi untuk keamanan kita bersama, terutama karena kawah aktif ini di Gunung Papandayan bisa mengeluarkan gas-gas vulkanik yang berbahaya bagi kesehatan, seperti itu ya kira-kira," kata Rita.
Keberadaan gas SO2 dan H2S dengan konsentrasi tinggi menjadi alasan utama pengunjung diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif dan tidak melakukan aktivitas berkemah di area sensitif gas tersebut.
Load more