Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Diprediksi Melesat Capai 5,3 Persen pada Kuartal III-2026
- ANTARA FOTO
tvOnenews.com, Jakarta – Lembaga riset ekonomi Waterfront Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mampu menembus angka 5,33 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Capaian ini meningkat dibandingkan kuartal II-2026 yang tercatat sebesar 5,29 persen serta kuartal III-2025 di angka 5,04 persen, dengan belanja pemerintah dan gairah investasi domestik sebagai mesin penopang utamanya.
Raffi Hemas dari Waterfront Research Team menjelaskan, penguatan investasi terlihat dari lonjakan kredit investasi yang meroket 23,2 persen (yoy), serta realisasi investasi kuartal III-2026 yang menyentuh angka fantastis Rp528,7 triliun.
“Permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Belanja pemerintah dan investasi memberikan kontribusi penting, sementara konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh moderat di kisaran 5 persen,” papar Raffi dalam Economic Notes Waterfront Research.
- Ilustrasi AI/ChatGPT
Di sektor riil, aktivitas manufaktur nasional menunjukkan tren ekspansif yang solid dengan kenaikan Indeks Manufaktur (PMI) ke level 54,0 pada Oktober 2026.
Secara fiskal, belanja negara hingga September 2026 melesat 19 persen menjadi Rp2.660,5 triliun (69,2 persen dari pagu), dengan defisit anggaran yang tetap terkendali di level 1,24 persen terhadap PDB.
Adanya sisa pagu anggaran serta alokasi stimulus akhir tahun sekitar Rp31 triliun diyakini mampu menjaga daya beli masyarakat pada kuartal IV.
Kendati demikian, pemerintah diingatkan untuk ekstra waspada terhadap potensi kenaikan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel yang berisiko membengkakkan subsidi energi dan menggerus belanja produktif.
- ANTARA
Dari sisi moneter, Bank Indonesia diproyeksikan masih menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen hingga akhir 2026.
Namun, jika Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga di bulan Desember dan Rupiah tertekan melampaui Rp18.500 per dolar AS, terdapat ruang kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen.
Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi 41,5 persen (ytd) ke level 5.057 akibat isu reklasifikasi kepemilikan saham oleh MSCI, yang dinilai murni disebabkan peningkatan premi risiko tata kelola pasar dan bukan kemunduran fundamental ekonomi.
Berbanding terbalik dengan pasar saham, kepemilikan modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) justru menguat 4,77 persen (ytd) menjadi Rp921,96 triliun.
Hal ini menandakan kepercayaan investor terhadap instrumen utang negara Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Load more