GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Akhirnya Terungkap, Soeharto Sama Sekali Tak Tersentuh di Tragedi G30S PKI Berkat Sembunyi di Tempat ini, Jenderal Lain Dihabisi Secara Sadis

Akhirnya Terungkap, Soeharto Sama Sekali Tak Tersentuh di Tragedi G30S PKI Berkat Sembunyi di Tempat ini, Jenderal Lain Dihabisi Secara Sadis. Adapun Soeharto..
Kamis, 29 September 2022 - 06:14 WIB
Letjen MT Haryono, Mayjen Soeharto, dan Jenderal TNI Ahmad Yani
Sumber :
  • Kolase Tvonenews.com

Jakarta - Akhirnya Terungkap, Soeharto Sama Sekali Tak Tersentuh di Tragedi G30S PKI Berkat Sembunyi di Tempat ini, Jenderal Lain Dihabisi Secara Sadis

Presiden RI ke-2 Soeharto menjadi sosok yang paling kontroversial karena ia adalah salah satu Jenderal TNI yang saat itu selamat pada tragedi mencekam G30S PKI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pria berjuluk The Smiling General itu selamat dari incaran pasukan Cakrabirawa DI PERISTIWA G30S PKI yang membantai sejumlah para petinggi TNI kala itu.

Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan terkait Soeharto yang bisa lolos dari tragedi G30S PKI.

Sejumlah pihak pun tak sedikit yang berpendapat bahwa sebenarnya Soeharto-lah yang berada di balik peristiwa G30S PKI itu.


Presiden RI ke-2 Soeharto. (Ist)

Namun, benarkah begitu?

Teori keterlibatan Soeharto di peristiwa berdarah G30S PKI itu didukung sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa Soeharto tidak ikut diculik dan dibunuh oleh PKI seperti jenderal-jenderal lainnya?

Kala itu, pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto menyiarkan kabar sampai ke sekolah-sekolah di Indonesia dengan menyebut bahwa PKI adalah biang kerok peristiwa berdarah itu terjadi.

Namun seiring waktu, penculikan dan pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober 1965 tak bisa dilihat sebagai kesalahan tunggal PKI.

Peristiwa G30S PKI terjadi akibat kabar burung yang mengatakan adanya sekelompok jenderal atau Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Soekarno.

Peter Kasenda dalam Kematian DN Aidit dan Kejatuhan PKI (2016) menulis, PKI mendapat informasi tersebut dari rekan mereka di militer yang merupakan simpatisan PKI.


Dedengkot PKI, DN Aidit. (ist)

Pada tahun 1965, militer pecah menjadi beberapa faksi yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan.

Di antaranya, sebagian kecil menjadi simpatisan PKI, partai yang pada saat itu merupakan salah satu partai politik terbesar.

Kader-kader PKI sukses menduduki kursi dewan dan kursi pejabat.

Namun ada faksi-faksi yang justru anti terhadap PKI.

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, negara-negara pemenang silih bersaing memperebutkan pengaruh.

Di berbagai negara, persaingan yang dikenal dengan 'perang dingin' ini membelah dunia menjadi dua.

Misalnya, Uni Soviet dengan paham komunisnya. Dan ada Amerika Serikat dengan paham kapitalisnya.

Di tahun 1960-an, Soekarno dan PKI lebih condong ke Uni Soviet dan justru terkesan antibarat.

Sedangkan Dewan Jenderal diyakini sejalan dengan Amerika Serikat yang ingin menyingkirkan Soekarno.


Presiden RI ke-2 dan Jenderal TNI Soeharto. (ist)

Dari keyakinan ini, para perwira militer yang loyal kepada Soekarno bergerak secara diam-diam untuk mencegah kudeta.

Di antaranya Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa), dan Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim).

Mereka mendapat dukungan dari Sjam Kamaruzaman, Kepala Biro Chusus (BC) PKI yang merupakan Badan Intelijen PKI. Daftar jenderal yang jadi sasaran disusun oleh Sjam bersama para perwira militer.

Simpatisan pro PKI itu berencana "menculik" para jenderal dan membawanya ke hadapan Presiden Soekarno.

Adapun ternyata rencana tersebut gagal total. Persiapan tidak dilakukan dengan matang. Para jenderal justru dibunuh.

Soeharto Ada di Mana?

Dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer, Latief, kala itu menceritakan alasannya tidak memasukkan nama Soeharto. 

"Karena kami anggap Jenderal Soeharto loyalis Bung Karno, maka tidak kami jadikan sasaran," kata Latief seperti dikutip dari buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang (2010).

Adapun Latief juga melapor ke Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).


Presiden RI ke-2 Soeharto. (Ist)

Langkah mengejutkan tersebut dilakukan Latief setelah laporannya, kala itu, tak ditanggapi oleh Pangdam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah dan Pangdam Brawijaya Mayjen Jenderal Basoeki Rachmat.

Latief menyebut sudah beberapa kali mewanti-wanti adanya upaya kudeta oleh Dewan Jenderal.

Menurut Latief, Jenderal Soeharto ketika itu hanya bergeming mendengar informasi itu.

Bahkan di malam 30 September 1965, Soeharto memilih mengabaikan Latief yang menyampaikan rencananya menggagalkan kudeta.

Adapun Soeharto mengakui ia bertemu dengan Latief menjelang peristiwa G30S.

Namun Soeharto memberikan kesaksian yang berganti-ganti. Dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 19 Juni 1970 misalnya, Soeharto mengaku ditemui di RSPAD Gatot Subroto oleh Latief pada malam 30 September 1965.

Soeharto saat itu  tengah menjaga anak bungsunya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy yang dirawat karena luka bakar akibat ketumpahan sup panas.

Namun kata Soeharto, Latief tidak memberi informasi apa-apa, justru malah mau membunuhnya saat itu juga.

"Dia justru akan membunuh saya. Tapi karena saya berada di tempat umum, dia mengurungkan niat jahatnya itu," kata Soeharto. Namun dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1988), Soeharto mengaku hanya melihat Latief dari kejauhan dan tak sempat berinteraksi.

Puncaknya pada 11 Maret 1966. Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Angkatan Darat mendapat mandat dari Soekarno untuk mengatasi keadaan.

Permintaan yang dikenal dengan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) itu membuka pintu bagi Soeharto untuk mengambil kekuasaan dari Soekarno. 

Dan peristiwa itu membuat Soeharto muncul sebagai pahlawan.

Soeharto pun sukses menumpas PKI dan menjadi presiden.


Presiden RI ke-2 Soeharto. (ist)

Kala itu, setidaknya sebanyak 500 ribu orang yang dituduh PKI atau simpatisannya, dihabisi di berbagai penjuru Indonesia.

Latief pun merasa dikhianati oleh Soeharto.

"Jadi siapa yang sebenarnya telah mengakibatkan terbunuhnya para jenderal tersebut? Saya yang telah memberi laporan lebih dulu kepada Jenderal Soeharto? Atau justru Jenderal Soeharto, yang sudah menerima laporan tetapi tidak berbuat apa-apa?" kata Latief dalam kesaksiannya.

"Nyatanya, sama sekali tidak pernah ada langkah-langkah untuk menambah penjagaan. Sebaliknya, setelah Peristiwa G30S meletus, selain menghantam G30S dan juga membantai ribuan rakyat yang sama sekali tidak tahu apa-apa, mereka bertiga (Soeharto, Umar Wirahadikusumah, dan Basuki Rachmat) kemudian malahan bersama-sama menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno," kata Latief. (abs)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jangan Lupa Subscribe YouTube Tvonenews.com:

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Momen Haru di Istana Merdeka: Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu "Bagimu Negeri" Bergema

Momen Haru di Istana Merdeka: Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu "Bagimu Negeri" Bergema

Suasana penuh emosional menyelimuti halaman Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (17/8) sore saat berlangsungnya Upacara Penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 RI. 
Tak Hanya Tokoh Penting, Teman-teman Bobby Kertanegara Turut Diundang Upacara di Istana Merdeka

Tak Hanya Tokoh Penting, Teman-teman Bobby Kertanegara Turut Diundang Upacara di Istana Merdeka

Para undangan turut hadir mengikuti upacara bendera. Tak sedikit orang yang menginginkan mendapatkan undangan. Pemilik kucing, Jenni Sagita mendapat undangan
Igor Tolic Isyaratkan Rotasi Skuad Persib Bandung di Laga Uji Coba Kontra Bali United

Igor Tolic Isyaratkan Rotasi Skuad Persib Bandung di Laga Uji Coba Kontra Bali United

Laga Persib melawan Bali United ini akan menjadi uji coba pamungkas sebelum berlaga melawan Manila Digger di babak play off AFC Champions League 2026/2027.
Sikap Islam Makhachev Ketika Tak Disorot Kamera Tuai Pujian Penggemar, Lakukan Ini Usai Kalahkan Ian Machado Garry

Sikap Islam Makhachev Ketika Tak Disorot Kamera Tuai Pujian Penggemar, Lakukan Ini Usai Kalahkan Ian Machado Garry

Bukan hanya kemenangan bersejarah yang membuat namanya dipuji, tetapi juga momen ketika Islam Makhachev menghampiri putra lawannya yang terlihat menangis.
Ahli Waris Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Mendapat Uluran Tali Asih, Mendagri Beri Rp15 Juta per Jiwa yang Wafat

Ahli Waris Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Mendapat Uluran Tali Asih, Mendagri Beri Rp15 Juta per Jiwa yang Wafat

Ahli waris dari keluarga yang meninggal akibat gempa NTT mendapat uluran tali asih. Mendagri Tito Karnavian menyalurkan dana senilai Rp15 juta untuk setiap jiwa yang wafat.
BNPB Update Korban Gempa Bumi di NTT: 68 Korban Meninggal Dunia dan 213 Alami Luka-luka

BNPB Update Korban Gempa Bumi di NTT: 68 Korban Meninggal Dunia dan 213 Alami Luka-luka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan update terkni jumlah korban meninggal dan luka-luka akibat akibat gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (17/8).

Trending

Mendagri Tito Karnavian Pimpin Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Natas Lehong Manggarai Timur

Mendagri Tito Karnavian Pimpin Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Natas Lehong Manggarai Timur

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang berlangsung di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). 
Link Streaming Upacara HUT RI ke-81 17 Agustus 2026 di Istana Merdekaa, Mulai Pukul 10.00 WIB

Link Streaming Upacara HUT RI ke-81 17 Agustus 2026 di Istana Merdekaa, Mulai Pukul 10.00 WIB

Nonton upacara HUT RI ke-81 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka lewat link live streaming resmi. Saksikan Detik-Detik Proklamasi mulai pukul 10.00 WIB.
Mengenal Kolonel Inf Priyo Handoyo, Sosok di Balik Komandan Upacara HUT RI ke-81 di Istana Merdeka

Mengenal Kolonel Inf Priyo Handoyo, Sosok di Balik Komandan Upacara HUT RI ke-81 di Istana Merdeka

Siapa Kolonel Priyo Handoyo? Simak profil dan perjalanan karier perwira TNI AD yang dipercaya menjadi Komandan Upacara HUT RI ke-81 di Istana Merdeka.
Polisi Temukan 1,6 Ton Pasir Timah Ilegal di Belitung yang Disamarkan dalam Karung Beras

Polisi Temukan 1,6 Ton Pasir Timah Ilegal di Belitung yang Disamarkan dalam Karung Beras

Tim gabungan Kepolisian Daerah (Polda) Bangka Belitung bersama Satuan Pelaksana (Satlap) Tricakti berhasil menemukan puluhan karung berisi pasir timah tanpa dokumen sah.
Polda NTT Turunkan Tim Psikologi untuk Gelar Trauma Healing dengan Teknik USEFT bagi Korban Gempa

Polda NTT Turunkan Tim Psikologi untuk Gelar Trauma Healing dengan Teknik USEFT bagi Korban Gempa

Kepedulian Polda NTT tidak hanya sebatas memberikan bantuan hingga mengevakuasi korban gempa yang terjadi di NTT pada Sabtu (15/8) lalu. Namun, Polda NTT juga
Bisa Bela Timnas Indonesia? Ini Profil Kieron Bowie, Striker Serie A yang Ikut Kirim Ucapan HUT RI ke-81 Bareng Jay Idzes

Bisa Bela Timnas Indonesia? Ini Profil Kieron Bowie, Striker Serie A yang Ikut Kirim Ucapan HUT RI ke-81 Bareng Jay Idzes

Kieron Bowie, striker Liga Italia yang ikut ucapkan HUT RI ke-81 bersama Jay Idzes. Momen itu memancing penasaran soal peluang Bowie membela Timnas Indonesia.
Curi Perhatian! Jay Idzes Kirim Ucapan HUT Ke-81 RI, Sapa Warga Indonesia dengan Bahasa Sunda dan Jawa

Curi Perhatian! Jay Idzes Kirim Ucapan HUT Ke-81 RI, Sapa Warga Indonesia dengan Bahasa Sunda dan Jawa

Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes turut merayakan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang dirayakan pada hari Senin (17/8/2026) ini.
Selengkapnya

Viral