GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Franz Magnis Suseno Bandingkan Kasus Bharada E dengan Sejarah NAZI, "Yang Diperintah Itu Orang Kecil"

Franz Magnis Suseno dengan tegas menyebut bahwa pemberi perintah pembunuhan Brigadir J jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan yang diperintah. Jadi Bharada E
Rabu, 28 Desember 2022 - 11:02 WIB
Romo Frans Magnis Suseno
Sumber :
  • Kolase tvonenews.com

Jakarta – Ahli filsafat moral, Franz Magnis Suseno, dihadirkan dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J sebagai saksi ahli untuk meringankan hukuman Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E.

Selain Franz Magnis Suseno dalam persidangan tersebut pihak Bharada E juga menghadirkan 2 saksi ahli lain yakni ahli psikologi klinik dewasa Liza Marielly Djaprie, dan ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada kesempatan tersebut Franz Magnis Suseno memberikan beberapa kesaksian salah satunya terkait siapa yang patut disalahkan dalam perkara Brigadir J. Pastor yang akrab disapa Romo Magnis ini mengatakan bahwa Ferdy Sambo lebih layak bertanggung jawab dibandingkan Bharada E.

Kesaksian Romo Magnis ini bermula ketika jaksa bertanya mengenai siapa yang bersalah lebih berat, si pemberi perintah (Ferdy Sambo) atau yang diberi perintah (Bharada E).

Bharada E
Romo Franz Magnis Suseno saat bersaksi di persidangan (Tim tvOne)

“Secara pertanggung jawaban pidananya ini lebih berat yang mana Romo, apakah orang yang memberi perintah atau yang diberi perintah?” tanya jaksa penuntut umum.

Romo Magnis lantas menjawab bahwa pemberi perintah (Ferdy Sambo)  jelas lebih bertanggung jawab dibandingkan yang mendapatkan perintah (Bharada E).

“Menurut saya jelas yang memberi perintah ini sesuatu yang saya bukan ahli,” ungkap Franz Magnis Suseno.

Bukan itu saja, Romo Franz Magnis Suseno bahkan juga menghubungkan kasus Bharada E ini dengan kisah sejarah NAZI yang terjadi di Jerman.

“Tapi saya ikuti di dalam pembicaraan mengenai yang terjadi di jaman NAZI di Jerman di mana berulang kali orang melakukan perintah-perintah karena. Tapi juga ancaman itu. Ada satu budaya dimana orang sepertinya tidak dididik dan tidak dilatih untuk bertanggung jawab, lalu ya ikut saja yang diperintahkan dengan selalu memperhatikan tekanan waktu itu terjadi dalam tersedia beberapa detik untuk mengambil sikap dalam kasus ini,” terang Romo Franz Magnis Suseno.

Pasca memberikan keterangan tersebut, Romo Franz Magnis Suseno lantas  menegaskan bahwa yang memberi perintah jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan yang diberi perintah.

“Jadi menurut saya jelas tanggung jawab yang memberi perintah itu jauh lebih besar. Malah katakan saja yang diperintah itu orang kecil ya orang kecil, biasa melakukan karena dia juga tahu akibatnya buruk kalau tidak melakukannya,” tegas Romo Franz Magnis Suseno.

Faktor yang dapat meringankan Bharada E

Sementara saat ditanya oleh pihak penasihat hukum Bharada E mengenai hal-hal yang bisa meringankan kliennya, Romo Frans Magnis Suseno menyebutkan ada 2 hal. Hal pertama yang paling bisa meringankan hukuman Bharada E adalah adanya budaya ‘laksanakan’ dalam tubuh kepolisian.

Dalam budaya ini perintah dari atasan adalah hal yang harus dilaksanakan oleh bawahannya, termasuk hubungan antara Ferdy Sambo dan Bharada E. Sifat taat yang dilakukan Bharada E terjadi karena kedudukannya yang cenderung rendah di kepolisian.,

“Menurut saya yang tentu paling meringankan adalah kedudukan yang memberi perintah itu. Itu bukan ajudannya tapi orang yang berkedudukan tinggi, yang jelas berhak memberi perintah yang sejauh saya tahu di dalam kepolisian tentu akan ditaati dan tidak mungkin orang katanya Eliezer itu 24 tahun umurnya, jadi masih muda itu ya ‘Laksanakan’ (perintah) itu unsur yang paling kuat,” jelas Romo Frans Magnis Suseno.

Sementara yang kedua adalah unsur keterbatasan situasi. Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa situasi yang tegang turut mempengaruhi keputusan Bharada E untuk menaati perintah dari Ferdy Sambo.

“Yang kedua, tentu keterbatasan situasi. Situasi yang tegang yang amat sangat membingungkan, saya kita semua itu gimana dia pada saat itu juga harus menunjukkan ‘laksanakan’ atau tidak,” ungkap Romo Frans Magnis Suseno.

Bukan hanya itu, saksi ahli filsafat ini juga mengatakan bahwa tidak adanya waktu untuk Bharada E membuat pertimbangan juga bisa jadi hal lain yang bisa mengurangi masa hukuman.

“Tidak ada waktu untuk melakukan suatu pertimbangan matang. Di mana  kita umumnya kalau ada keputusan yang penting mengatakan ‘coba ambil waktu tidur dulu’. Dia (Bharada E) harus langsung bereaksi. Menurut saya itu tentu dua faktor yang secara etis sangat meringankan (Eliezer),” jelas Frans Magnis Suseno.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bukan hanya itu, Frans Magnis juga mengatakan bahwa perintah penembakan yang dibuat oleh Ferdy Sambo sama sekali tidak masuk akal.

“Bahwa seorang atasan polisi memberi perintah tembak itu sama sekali nggak masuk akal,” ungkap Romo Frans Magnis Suseno. (Lsn)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Media Malaysia Girang Bukan Main, Anak Bojan Hodak Masuk Radar Harimau Malaya Jelang Kualifikasi Piala Asia

Media Malaysia Girang Bukan Main, Anak Bojan Hodak Masuk Radar Harimau Malaya Jelang Kualifikasi Piala Asia

Media Malaysia ramai membahas peluang skuad muda Harimau Malaya mendapatkan tambahan pemain keturunan baru. Anak Bojan Hodak, Luka Jordy Hodak, jadi sorotan.
Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 1447 Hijariah Jatuh Pada 27 Mei 2026

Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 1447 Hijariah Jatuh Pada 27 Mei 2026

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan hari raya Idul Adha 2026 jatuh pada 10 Zulhijah 1447 Hijriah atau tepatnya 27 Mei 2026 Masehi. Pemerintah kapan?
Kadin China Layangkan Surat Protes Terkait Regulasi Baru, Bahlil Akui Sudah Komunikasi dengan Dubes

Kadin China Layangkan Surat Protes Terkait Regulasi Baru, Bahlil Akui Sudah Komunikasi dengan Dubes

Bahlil mengungkapkan dirinya telah bergerak cepat melakukan komunikasi langsung dengan pengusaha China maupun Kedutaan Besar China di Indonesia guna meredam kekhawatiran yang mulai berkembang di kalangan investor.
Ibu-ibu Labrak Dedi Mulyadi Tagih Gaji Anaknya yang Kerja di Pemprov Jabar Belum Dibayar, Tak Disangka Ini yang Dilakukan KDM

Ibu-ibu Labrak Dedi Mulyadi Tagih Gaji Anaknya yang Kerja di Pemprov Jabar Belum Dibayar, Tak Disangka Ini yang Dilakukan KDM

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi bertemu dengan seorang ibu-ibu yang mengaku anaknya bekerja di Pemprov Jabar namun tak juga kunjung mendapatkan gaji.
Fabrizio Romano Bersabda, Michael Carrick Segera Resmi Dapat Kontrak Baru dari Manchester United?

Fabrizio Romano Bersabda, Michael Carrick Segera Resmi Dapat Kontrak Baru dari Manchester United?

Jurnalis kenamaan Fabrizio Romano melaporkan bahwa Manchester United selangkah lagi akan mempermanenkan Michael Carrick sebagai manajer utama mereka.
‎Persib Bandung dan Borneo FC Saling Sikut, I.League Antisipasi Penyerahan Trofi Super League di Dua Kota

‎Persib Bandung dan Borneo FC Saling Sikut, I.League Antisipasi Penyerahan Trofi Super League di Dua Kota

Persaingan gelar juara BRI Super League 2025/2026 dipastikan berlangsung panas hingga pekan terakhir kompetisi. Situasi itu membuat operator liga, I.League, mulai menyiapkan langkah antisipasi terkait seremoni penyerahan trofi juara musim ini.

Trending

Sebelum Jadi Pembawa Acara Lomba Cerdas Cermat MPR RI, Shindy Lutfiana Ternyata Sempat Ikut Kompetisi Bakat MC

Sebelum Jadi Pembawa Acara Lomba Cerdas Cermat MPR RI, Shindy Lutfiana Ternyata Sempat Ikut Kompetisi Bakat MC

Shindy Lutfiana Al Aziz, MC babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Kalbar pernah menjadi peserta ajang Tangerang MC Competition 2025.
Diundang Imbas Polemik Juri LCC Empat Pilar MPR RI di Kalbar, Ocha Ungkap Diberi Tips Public Speaking oleh Gibran

Diundang Imbas Polemik Juri LCC Empat Pilar MPR RI di Kalbar, Ocha Ungkap Diberi Tips Public Speaking oleh Gibran

Josepha Alexandra dan murid SMAN 1 Pontianak, peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Kalbar dikasi tips penting oleh Gibran Rakabuming Raka.
Masyarakat Tagih Permohonan Maaf Pribadi Juri Lomba Cerdas Cermat Kalbar, Begini Jawaban Setjen MPR

Masyarakat Tagih Permohonan Maaf Pribadi Juri Lomba Cerdas Cermat Kalbar, Begini Jawaban Setjen MPR

Persoalan sanksi bagi dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat dipastikan belum berakhir. 
Ngaku-ngaku Anaknya Kerja di Pemprov Jabar tapi Gak Digaji-gaji, Ibu-ibu Ini Langsung Disemprot Dedi Mulyadi

Ngaku-ngaku Anaknya Kerja di Pemprov Jabar tapi Gak Digaji-gaji, Ibu-ibu Ini Langsung Disemprot Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi memberikan jawaban tegas ketika dihampiri seorang ibu-ibu yang mengaku anaknya bekerja di Pemprov Jabar tetapi tidak menerima gaji, apa kata KDM?
Dewan Juri Lomba Cerdas Cermat Akhirnya Buka Suara, Akui Anulir Jawaban Peserta Karena Alasan Ini

Dewan Juri Lomba Cerdas Cermat Akhirnya Buka Suara, Akui Anulir Jawaban Peserta Karena Alasan Ini

Dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI akhirnya buka suara usai menuai kritik dari publik usai aksinya yang menganulir jawaban dari peserta SMAN 1 Pontianak.
TRENDING: MC Lomba Cerdas Cermat MPR Diputus Kontrak, hingga Kabar Gembira Dedi Mulyadi Usul Pajak Kendaraan Dihapus

TRENDING: MC Lomba Cerdas Cermat MPR Diputus Kontrak, hingga Kabar Gembira Dedi Mulyadi Usul Pajak Kendaraan Dihapus

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan berbagai isu viral. Mulai dari polemik lomba cerdas cermat di Kalimantan Barat, hingga kebijakan Dedi Mulyadi.
Nasib Siswi SMAN 1 Pontianak Usai Viral Diduga Dicurangi Juri LCC: Dipanggil Wapres Gibran ke Istana, Isinya Mengejutkan

Nasib Siswi SMAN 1 Pontianak Usai Viral Diduga Dicurangi Juri LCC: Dipanggil Wapres Gibran ke Istana, Isinya Mengejutkan

Istana Wakil Presiden mendadak menjadi lokasi pertemuan spesial bagi sepuluh pelajar SMAN 1 Pontianak, Rabu (13/5). 
Selengkapnya

Viral