Masih Ingat Herman Dzumafo Epandi? Legenda Persib yang Sudah Dinaturalisasi, tapi Tak Pernah Dipanggil ke Timnas Indonesia
- Instagram/hermandzumafo99
tvOnenews.com - Nama Herman Dzumafo Epandi telah menjadi bagian dalam dunia sepak bola Indonesia.
Ketika mayoritas pesepak bola seusianya sudah lama gantung sepatu dan beralih profesi menjadi pelatih atau pengamat, pria kelahiran Douala, Kamerun ini masih aktif menerjang jala gawang lawan.
Sosok yang akrab disapa "Papa Dzumafo" ini merupakan bukti nyata bahwa usia hanyalah angka jika dibarengi dengan dedikasi tinggi.
1. Profil dan awal kedatangan di Indonesia
- Instagram @borneofc.id - Instagram @pspsriau
Herman Dzumafo lahir di Douala, Kamerun, pada 21 Februari 1980. Ia pertama kali menjejakkan kaki di tanah air pada tahun 2007 untuk bergabung dengan PSPS Pekanbaru.
Dengan postur tinggi besar mencapai 186 cm, Dzumafo dengan cepat bertransformasi menjadi penyerang paling ditakuti di Liga Indonesia.
Ketajamannya dalam mengolah bola dan ketenangan di depan gawang membuatnya berkelana ke klub-klub elite, sebut saja, seperti Arema (2012), Persib Bandung (2012-2013), Mitra Kukar (2014), Bhayangkara FC (2018-2021), hingga Dewa United (2021).
Tak hanya menempuh karier di Ibu Pertiwi, untuk urusan percintaanya, Dzumafo bahkan melabuhkan hatinya pada seorang wanita Indonesia bernama Maria Magdalena yang dinikahinya pada tahun 2009 silam.
Setelah melalui proses administrasi yang cukup panjang, ia akhirnya resmi mendapatkan paspor Indonesia melalui jalur naturalisasi PSSI pada Juli 2017 lalu.
2. Striker ganas yang tak pernah Bela Timnas Indonesia
- commons.wikimedia.com/SE Asian Football
Meskipun memiliki catatan gol yang impresif, termasuk sukses membawa Bhayangkara FC menjuarai Liga 1, Herman Dzumafo menyimpan satu catatan ironis, yakni dirinya yang tak pernah sekalipun mencicipi seragam Timnas Indonesia.
Penyebab utamanya bukanlah karena permainannya yang sudah tak impersif lagi, tapi faktor usia.
Diketahu, saat resmi menjadi WNI di tahun 2017, Dzumafo sudah menginjak usia 37 tahun. Di usia tersebut, tentu saja PSSI akan lebih memilih untuk melakukan regenerasi dengan memanggil pemain naturalisasi yang lebih muda atau striker lokal potensial, ketimbang memasukkan nama Dzumafo yang berusia hampir kepala empat.
Meskipun Dzumafo tak pernah bermain untuk Timnas Indonesia, ia tetap menunjukkan konsistensi di level klub.
Load more