Kok Bisa, Usai Cetak Clean Sheet Maarten Paes Malah Dihujani Kritik Legenda Ajax: Apa yang Salah?
- instagram Ajax
tvOnenews.com - Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, akhirnya mencatat clean sheet perdananya bersama Ajax Amsterdam.
Namun alih-alih hanya menuai pujian, penampilan tersebut justru dibarengi kritik tajam dari legenda klub. Fakta ini benar terjadi usai laga pekan ke-25 Eredivisie 2025/2026.
Paes tampil penuh saat Ajax bermain imbang 0-0 melawan PEC Zwolle di MAC PARK Stadion, Minggu (1/3/2026).
Ia sukses menjaga gawang tetap perawan dan bahkan dinobatkan sebagai Man of the Match.
Meski begitu, mantan pemain Ajax era awal 2000-an, Kenneth Perez, tetap menyoroti satu momen krusial yang hampir berujung petaka.
Hampir Blunder, Perez Angkat Bicara
Momen yang menjadi sorotan terjadi pada menit ke-65. Sapuan Paes tak sempurna setelah bola mengenai kaki Younes Namli dan mengarah ke Koen Kostons.
Situasi itu nyaris berubah menjadi gol untuk Zwolle. Beruntung, Paes sigap memperbaiki kesalahannya dengan bergerak cepat dan mengamankan bola sebelum benar-benar berbahaya.
Kenneth Perez, yang kini menjadi pengamat sepak bola, tak menutup mata terhadap insiden tersebut. Seperti dikutip dari Voetbal Primeur, ia melontarkan kritik tajam.
"Mereka punya pembuat masalah terbesar di gawang. Paes, dia memainkan umpan paling gila dan sangat lemah," ucap Perez.
"Anda mesti melakukan umpan yang tepat. Itu selalu terjadi di Ajax," ujar legenda Ajax tersebut.
Pernyataan tersebut kemudian diamini oleh Marciano Vink, pandit ESPN Belanda. Menurut Vink, Paes memang belum terbiasa memainkan peran kiper yang aktif membangun serangan dari belakang.
"Dia adalah penjaga gawang yang tidak perlu membangun permainan sebelum bergabung dengan Ajax. Dia belum pernah melakukannya tetapi sekarang dia bermain untuk Ajax," ujar Vink.
Kritik ini menegaskan ekspektasi tinggi terhadap kiper Ajax, terutama dalam hal distribusi bola dan ketenangan dalam build-up play.

- Instagram/@maartenpaes
Clean Sheet, Man of the Match, dan Julukan “Genzo”
Terlepas dari kritik tersebut, fakta di lapangan menunjukkan Paes tetap tampil solid. Ia mencatat dua penyelamatan penting, termasuk menepis tembakan Koen Kostons dari jarak dekat di area penalti.
Laga itu berakhir tanpa gol, dan performanya diganjar penghargaan Man of the Match.
Uniknya, clean sheet perdana Paes bersama Ajax tercipta dengan gaya berbeda: ia mengenakan topi selama pertandingan karena cuaca panas.
Penampilan tersebut langsung memantik reaksi warganet. Banyak yang menyamakan Paes dengan Genzo Wakabayashi, karakter ikonik dalam anime Captain Tsubasa yang kerap memakai topi saat menjaga gawang.
Akun @Wenda_rs12 menulis, “Wakabayashi-paes.”
Sementara @jamesfauzan11 berkomentar, “Maarten Wakabayashi.”
Akun resmi Eredivisie Indonesia bahkan ikut meramaikan dengan julukan “Genzo Paesbayashi” melalui unggahan Instagram mereka.
Performa Paes di Ajax tentu menjadi perhatian besar bagi Timnas Indonesia. Dalam beberapa laga internasional terakhir, ia menunjukkan refleks cepat dan kemampuan shot-stopping yang konsisten.
Namun, tuntutan bermain untuk Ajax berbeda dibanding klub sebelumnya, terutama soal distribusi bola dan keberanian membangun serangan dari lini belakang.
Hal ini relevan dengan arah permainan yang kemungkinan dibawa John Herdman dalam debutnya bersama Timnas Indonesia.
Jika Herdman menginginkan kiper modern yang terlibat aktif dalam build-up, maka Paes harus cepat beradaptasi dengan tuntutan tersebut, persis seperti yang sedang ia jalani di Ajax.
Agenda FIFA Series 2026 menjadi panggung berikutnya. Pengalaman menghadapi tekanan tinggi di Eredivisie, termasuk menerima kritik terbuka dari legenda klub, bisa menjadi modal mental penting bagi Paes saat kembali mengenakan seragam Garuda.
Saat ini, Ajax sudah ditunggu laga berat berikutnya menghadapi FC Groningen. Konsistensi akan menjadi kunci bagi Paes untuk membungkam kritik sekaligus memperkuat posisinya sebagai pilihan utama di klub dan timnas.
Clean sheet memang sudah diraih. Julukan “Genzo Paesbayashi” sudah melekat. Kini, tantangan sesungguhnya adalah menjaga standar tinggi Ajax sekaligus menjawab ekspektasi publik Indonesia di era baru sepak bola nasional. (udn)
Load more