Kiper-kiper Mulai Protes, Bola Piala Dunia 2026 Sulit Ditepis: Statistik Opta jadi Buktinya
- Instagram FIFA
tvOnenews.com – Desain bola yang digunakan sepanjang gelaran Piala Dunia 2026 kini tengah menjadi sorotan tajam dan menuai banjir kritikan karena dinilai sangat menyulitkan para penjaga gawang.
Fenomena ini seolah membangkitkan memori kelam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan silam, saat bola Adidas Jabulani dihujat habis-habisan oleh para pemain top dunia karena jalurnya yang sangat liar dan susah dikendalikan.
Kritik pedas mengenai karakteristik bola edisi 2026 ini salah satunya dilontarkan oleh mantan penjaga gawang nomor satu Timnas Inggris, Joe Hart, saat bertugas sebagai komentator di BBC Sport.
- Instagram FIFA
"Saya melihat gol-gol dengan proses seperti ini terlalu sering terjadi di Piala Dunia kali ini. Pasti ada sesuatu yang aneh dengan bola yang digunakan dalam permainan," cetus Joe Hart seperti dikutip dari BBC, Sabtu (27/6/2026).
Joe Hart angkat bicara setelah mengamati banyaknya penjaga gawang kelas dunia yang melakukan blunder atau gagal mengantisipasi bola dengan cara yang tidak biasa.
Kiper utama Inggris Jordan Pickford serta tembok terakhir Senegal Edouard Mendy hanyalah sekelumit nama besar yang jarinya sempat menyentuh bola namun tetap gagal membendung si kulit bulat merobek jala gawang mereka.
Bahkan, kiper tangguh Luca Zidane tercatat harus memungut bola dari gawangnya dengan skema serupa dalam dua laga terpisah saat menghadapi gempuran Argentina dan Yordania.
Hal yang sama juga menimpa kiper Irak Ahmed Basil yang tak berkutik menepis tendangan roket jarak jauh Kylian Mbappe meski tangannya sempat melakukan kontak dengan bola.
Konstruksi 4 Panel Tanpa Jahitan
- Instagram FIFA
Analisis mendalam mengenai keanehan bola ini juga diamini oleh kiper senior Denmark Kasper Schmeichel.
Penjaga gawang kawakan ini bahkan mengaku tidak mau mengambil risiko dan sengaja membiasakan diri berlatih menggunakan bola Adidas teranyar ini bersama klubnya, Trionda, jauh-jauh hari sejak masa kualifikasi Piala Dunia 2026 dimulai.
Schmeichel secara gamblang memberikan wawasan teknis mengenai apa yang ia sebut sebagai "perbedaan serius" pada bola turnamen edisi kali ini.
"Yang istimewa dari bola ini adalah konstruksinya yang hanya terdiri dari empat panel. Tidak ada jahitan sama sekali di permukaannya, semuanya disatukan dengan cara direkatkan," ungkap Schmeichel dalam program podcast BBC Football Daily, Sabtu (27/6/2026).
"Ketika spesifikasi itu berpadu dengan cuaca yang berbeda, kepadatan udara, hingga hambatan udara pada bola yang berkurang, artinya bola tidak akan berputar sebanyak biasanya. Efek buruknya bagi kiper, bola bergerak sepersekian detik lebih cepat dari perkiraan kita," urainya.
Schmeichel menambahkan bahwa keanehan trajektori bola ini terlihat jelas pada gol pertama Kroasia ke gawang Pickford, serta gol-gol Lionel Messi yang bersarang ke gawang Luca Zidane.
"Intinya, industri ini ingin melihat lebih banyak gol tercipta, jadi mereka membuat bola yang memang dirancang khusus untuk mencetak gol," sambungnya mengkritik.
Statistik Opta: Rekor Gol Luar Kotak Penalti dan Blunder Meningkat Tajam
- REUTERS/Hannah Mckay
Pernyataan para kiper top tersebut bukan sekadar alibi, melainkan terbukti secara sahih lewat data statistik.
Hingga selesainya babak penyisihan grup, jumlah gol yang lahir dari luar kotak penalti tercatat melonjak dua kali lipat (20 gol) dibandingkan dengan total keseluruhan gol jarak jauh pada Piala Dunia 2022 lalu.
Berdasarkan data dari lembaga statistik olahraga Opta, jumlah kesalahan fatal penjaga gawang yang berujung gol juga mengalami kenaikan drastis.
Sejauh ini sudah tercipta 11 gol akibat kesalahan antisipasi, jumlah terbanyak di fase grup dalam tujuh edisi Piala Dunia terakhir.
Walau ada penambahan enam laga akibat ekspansi jumlah peserta turnamen, lonjakan angka ini tetap dinilai sangat signifikan.
"Berapa kali di level tertinggi sepak bola Anda melihat seorang kiper sudah berhasil menyentuh bola tetapi bola tetap masuk? Itu sangat jarang terjadi karena refleks mereka sangat bagus untuk membelokkan bola. Namun di turnamen ini, para kiper sering menyentuh bola di atas ketinggian bahu mereka dan tetap gagal menahannya. Jelas, ada sesuatu yang salah dengan bola ini," pungkas Joe Hart.
Load more