Pada Media Inggris, Erick Thohir Dukung Rencana FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia di Tengah Ancaman Boikot UEFA
- tvOnenews.com/Ilham Giovanni Pratama
Jakarta, tvOnenews.com - Rencana FIFA untuk menjual sebagian kepemilikan hak komersial PIala Dunia pada investor swasta menjadi polemik termasuk di level federasi hingga konfederasi sepak bola.
Di tengah gelombang penolakan dari sejumlah konfederasi besar, Ketua Umum PSSI Erick Thohir justru menegaskan dukungannya terhadap proyek bernilai fantastis tersebut karena dinilai dapat mempercepat pembangunan sepak bola Indonesia.
Usulan yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino itu akan melahirkan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan yang akan mengelola seluruh aset komersial Piala Dunia, mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket hingga lisensi.
FIFA menaksir nilai FFE mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp360 triliun, sementara penjualan sebagian sahamnya diproyeksikan menghasilkan tambahan dana sekitar 10 miliar dolar AS atau setara Rp180 triliun.
Dana tersebut rencananya akan didistribusikan kepada 211 asosiasi anggota FIFA sebagai bagian dari program pengembangan sepak bola global. Berdasarkan proposal yang beredar, setiap federasi berpeluang menerima sekitar 40 juta dolar AS atau sekitar Rp720 miliar apabila menyetujui rencana tersebut sebelum batas waktu pertengahan September 2026.
Di tengah kritik yang semakin meluas, Erick Thohir menilai skema tersebut justru menjadi peluang besar bagi negara berkembang seperti Indonesia yang masih membutuhkan investasi besar untuk mempercepat pembangunan ekosistem sepak bola nasional.
"Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Sepak bola Indonesia telah dibersihkan," ujar Erick Thohir kepada media Inggris, Sky News dikutip Jumat (31/7/2026).
Ketua Umum PSSI itu menilai transformasi yang sedang berlangsung membutuhkan dukungan finansial agar tidak berhenti di tengah jalan.
Menurut Erick, peningkatan prestasi Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti bahwa arah pembangunan sepak bola nasional sudah berada di jalur yang tepat.
"Peringkat tim nasional naik dari 174 menjadi 118. Untuk melanjutkan transformasi ini dibutuhkan pendanaan," lanjutnya.
Erick juga menepis anggapan bahwa FIFA sedang menyerahkan aset paling berharga dalam dunia sepak bola kepada investor swasta. Menurutnya, model kerja sama komersial seperti itu bukan hal baru karena telah diterapkan banyak liga dan federasi sepak bola di berbagai negara.
"Jika anggota FIFA menyetujuinya, itu akan menunjukkan bahwa memang ada kebutuhan agar kesepakatan ini terlaksana," tegas Erick.
Meski mendapat dukungan dari Indonesia, proposal FIFA justru menuai penolakan keras dari banyak pemangku kepentingan.
UEFA menjadi pihak yang paling vokal dengan menyebut langkah tersebut sebagai upaya menjual jiwa sepak bola. Asosiasi sepak bola Inggris (FA) juga menyatakan keprihatinan mendalam terhadap rencana tersebut.
Tak hanya Eropa, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang merupakan induk organisasi PSSI juga menyampaikan kritik. AFC mengaku kecewa karena tidak dilibatkan dalam pembahasan sejak awal dan menilai FIFA memberikan waktu yang terlalu singkat bagi seluruh anggota untuk mengkaji dampak hukum, tata kelola, hingga konsekuensi jangka panjang dari pembentukan FIFA Forward Enterprise.
Dalam pernyataan resminya, AFC menegaskan bahwa keputusan sebesar ini seharusnya melalui proses konsultasi yang transparan serta kajian menyeluruh sebelum dibawa ke tahap persetujuan.
"AFC sangat yakin bahwa waktu yang cukup harus diberikan untuk penilaian komprehensif, termasuk uji tuntas hukum dan tata kelola yang tepat, konsultasi yang bermakna, dan pertimbangan cermat terhadap implikasi jangka panjang dari inisiatif tersebut," tulis pernyataan AFC.
Penolakan juga datang dari Concacaf serta organisasi klub-klub Eropa (European Football Clubs/EFC). Mereka mempertanyakan minimnya transparansi FIFA dalam menyusun proposal tersebut, termasuk munculnya kabar bahwa Thrive Capital—perusahaan investasi milik Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump—diproyeksikan menjadi investor utama dengan suntikan modal sekitar 4,2 miliar dolar AS atau setara Rp75,6 triliun.
Kritik lainnya mengarah pada potensi dampak jangka panjang terhadap kalender sepak bola dunia. Banyak pihak khawatir masuknya investor swasta akan mendorong FIFA menggelar lebih banyak turnamen berskala global demi meningkatkan keuntungan komersial, yang pada akhirnya berisiko mengganggu jadwal kompetisi domestik serta memperberat beban fisik para pemain.
Menanggapi gelombang penolakan tersebut, Gianni Infantino menegaskan bahwa FFE masih sebatas proposal yang akan diputuskan secara demokratis oleh seluruh anggota FIFA. Ia memastikan tidak ada kewajiban bagi setiap federasi untuk menyetujui rencana tersebut dan menyebut proyek ini sebagai peluang emas untuk mempercepat perkembangan sepak bola dunia.
Load more