Bandung Jadi Penutup Soccer for Equality 2026, Ratusan Tim Gaungkan Kesetaraan Gender dan Hak Pendidikan Anak
- Istimewa
"Norma bahwa sepak bola hanya untuk anak laki-laki ingin kami ubah. Anak perempuan juga punya hak yang sama untuk bermain, berkembang, dan memimpin," kata Dini.
Selain itu, peserta turnamen turut diperkenalkan dengan kondisi pendidikan di NTT. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di provinsi tersebut pada 2024 baru mencapai sekitar 8,38 tahun, masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 9,22 tahun.
Melalui pendekatan tersebut, penyelenggara berharap para peserta semakin memahami bahwa masih banyak anak Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan sehingga tumbuh semangat gotong royong untuk membantu mereka.
Semangat kesetaraan itu juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Naquita, pemain tim putri Akademi Persib yang telah menekuni sepak bola sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Siswi kelas 5 SD Pelita Bandung itu mengaku turnamen tersebut memberikan pengalaman berharga, bukan hanya soal mengejar gelar juara, tetapi juga memperluas pertemanan dengan peserta dari berbagai daerah.
"Senang banget ikut di sini karena dapat teman baru dan tim bisa berjuang sampai juara," ujar Naquita.
Menurutnya, sepak bola juga membentuk karakter disiplin. Saat pertandingan dimulai, setiap pemain dituntut untuk fokus dan memberikan kemampuan terbaik demi tim.
Sementara itu, VP Crowdfunding Kitabisa sekaligus perwakilan SalingJaga/Beyond The Game, Marsudi Wijaya, menilai olahraga dapat menjadi jembatan untuk menggerakkan kepedulian sosial masyarakat.
"Kami percaya perubahan besar dimulai dari aksi bersama. Lewat semangat gotong royong melalui sepak bola, kami ingin membuka kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak perempuan di NTT untuk memperoleh hak pendidikan," kata Marsudi.
Load more