Kandang Persib Boncel dan Jerawatan? Bos Adhitia Putra Herawan Ungkap Fakta Mengejutkan Atas Rumput Lapangan Stadion GBLA
- AFC
Jakarta, tvOnenews.com - Persib Bandung menggunakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung sebagai kandang mereka di sepanjang musim 2025-2026.
Persib Bandung pun memiliki tren positif di kandang dengan belum pernah kalah di ajang AFC dan menyapu bersih poin penuh di Super League selama tampil di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.
Namun pencapaian tersebut tak serta merta membuat Bobotoh, sebutan suporter Persib puas hati. Kualitas rumput lapangan di Stadion GBLA seringkali mendapatkan kritik karena tak meratanya warna rumput lapangan.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan menyebut pembagian kualitas rumput ada pada penampilan dan fisik rumput di lapangan.
"Kualitas rumput itu ada dua, ada optik dan fisik. Optik saya setuju, jelek sekali, seperti jerawatan. Tapi fisik stadion kita, rumput kita yang termasuk paling bagus, tanya saja pada semua yang main di kandang Persib, semua bilang apa? Rumput GBLA enak sekali," kata Adhitia di kanal YouTube Liputan 6, dikutip Jumat (6/3/2026).
Adhitia mengakui Persib harus menata rumput mulai dari awal lagi setelah rumput lapangan hancur total karena selebrasi juara Persib di akhir musim 2024-2025 lalu.
"Idealnya memang diganti semua tumbuhkan lagi dari awal segala macam atau kita ganti pakai rumput yang kita dapat dari nursing field-nya kita. Nursing field itu apa? Kita punya lapangan lain yang kita sudah tanam rumputnya proper," kata Adhitia.
"Ketika rumputnya yang di lapangan utama jelek, kita cobek, kita ganti pakai rumput dari nursing, kita pindahkan ke lapangan," katanya.
Namun pada kenyataannya, Persib tidak memiliki rumput cadangan yang idealnya harus dimiliki. Bukan karena tidak mampu, tapi karena penumbuhan rumput yang tidak bisa dilakukan dalam sekejap.
"Kalaupun kita mau bikin rumput cadangan itu mesti ditumbuhkan normal. Jadi artinya rumput di pasir, di pupuk tumbuh dengan normal. Tidak bisa dipercepat," kata Adhitia.
Opsi lain untuk lapangan GBLA adalah menghancurkan seluruh rumput dan menanam daari nol.
"Kalau mau ideal kita hancurkan semua rumputnya kita tanam rumput baru dan itu butuh waktu enam sampai sembilan bulan, mau pindah mainnya kan tidak mungkin kita pindah Stadion Si Jalak Harupat juga tidak lebih bagus dibanding rumputnya kita," kata Adhitia.
Manajemen Persib pun mencari solusi terbaik, dengan keluarnya opsi tambal sulam. Hal ini yang ternyata membuat warna rumput lapangan di Stadion GBLA tidak memiliki warna seragam.
"Tapi ini seiring dengan berjanjian waktu tumbuh kita potong lagi tumbuh itu akan menyebar warnanya sehingga nanti akan warnanya sama semua dan kualitasnya sama semua," kata Adhitia.
"Tapi secara kualitas hari ini, lapangan GBLA tuh termasuk yang paling bagus. Lion City Sailors kita tanya bagaimana rumputnya? 'Top, empuk, tidak kekencangan, tidak kekerasan, enak, sliding semuanya enak. Ini rumput itu salah satu yang paling penting itu harus empuknya pas'," kata Adhitia memberikan testimonial tim tamu.
Adhitia pun memberikan bukti konkret dari bagusnya kualitas rumput lapangan Stadion GBLA. Adalah pemain minim mengalami cedera, di mana ini menjadi faktor kesulitan Persib di musim lalu.
"Musim lalu berapa banyak pemain kita yang cedera? Cederanya apa? Tendon, Achilles. Itu karena apa? Karena lapangan keras," kata Adhitia.
"Musim ini. Coba sebutkan pemain kita yang cedera itu enggak ada. Artinya kualitas rumput kita bagus, apalagi pendamping itu bagus banget kualitasnya," kata Adhitia.
Hal ini yang membuat Adhitia mengklaim bahwa kualitas rumput lapangan tidak hanya bisa dinilai dari penampilannya yang warna tak seragam.
"Jadi tidak bisa kita nilai kualitas rumput hanya dari optik, jerawatan jelek, tidak. Itu aliran bola masih bagus, soft-nya tepat, itu loh," kata Adhitia.
"Jadi kualitasnya bagus ya. Bukti nyatanya tidak ada pemain, atau sedikit sekali pemain yang cedera karena disebabkan oleh rumput yang jelek," tutup Adhitia. (hfp)
Load more