Miris, Eduardo Barbosa Pamit Sambil Bawa Kresek Merah, PSBS Biak Diduga Nunggak Gaji 3 Bulan hingga Degradasi Liga 1
- Tangkapan layar Instagram @glazosport
tvOnenews.com – Kabar memilukan datang dari kancah sepak bola nasional. Di tengah kepastian terjun bebas ke kasta kedua, klub PSBS Biak kini diterpa isu miring terkait hak pemain.
Gelandang asing asal Portugal Eduardo Barbosa menjadi sorotan setelah beredar kabar dirinya belum menerima gaji dari manajemen klub berjuluk Badai Pasifik tersebut.
Barbosa, yang baru bergabung pada Juli 2025, diduga mengalami kesulitan finansial yang serius.
- Tangkapan layar Instagram @glazosport
Sebuah momen mengharukan memperlihatkan sang pemain seolah berpamitan hanya dengan membawa kantong kresek merah, sebuah gambaran kontras bagi seorang pesepak bola profesional yang merantau jauh dari Pacos de Ferreira demi mencari nafkah di Indonesia.
Kondisi internal PSBS Biak kini berada di titik nadir. Kekalahan telak 0-4 dari Persebaya Surabaya pada Sabtu (2/5/2026) lalu resmi memastikan mereka menjadi tim pertama yang terdegradasi dari Super League 2025/2026.
Namun, borok non-teknis justru lebih menyita perhatian ketimbang performa di lapangan.
Asisten Pelatih PSBS Kahudi Wahyu dengan nada getir menyentil manajemen klub yang dianggap menutup mata terhadap penderitaan pemain.
Ia menyebut masalah mental akibat tunggakan gaji menjadi faktor utama hancurnya permainan tim.
"Saya sekalian ngomong ke manajemen saya ini. Anak-anak sudah seperti itu masih aja kalian tutup mata. Kita lihat bagaimana semangat kami, kekompakan kami, konsistensi kami di tengah situasi sulit ini," tegas Kahudi.
Senada dengan asistennya, pelatih kepala Marian Mihail juga angkat bicara.
Juru taktik asal Rumania itu menilai sangat wajar jika para pemain, termasuk penggawa asing, menyuarakan keresahan mereka di media sosial karena gaji yang belum dibayar selama hampir tiga bulan.
"Wajar jika pemain memperjuangkan hak-hak mereka karena mereka datang ke sini untuk menghidupi keluarga. Semangat tim saat ini sangat rendah. Bahkan saya dan staf pelatih juga berada dalam situasi sulit yang sama," ungkap mantan pelatih PSS Sleman tersebut.
- PSBS Biak
Skandal ini akhirnya sampai ke telinga Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Pria yang juga menjabat sebagai Menpora tersebut menegaskan bahwa PSSI telah memiliki payung hukum berupa National Dispute Resolution Chamber (NDRC) untuk melindungi hak-hak pemain.
Erick menyayangkan kejadian ini, apalagi subsidi pendapatan untuk klub Liga 1 sudah dinaikkan signifikan menjadi Rp17 miliar tahun ini.
"Yang pasti, dalam waktu dekat kita akan ada pertemuan dengan owner PSBS Biak. Kita punya mekanisme Club Licensing dan NDRC untuk menyelesaikan sengketa kontrak seperti ini," tegas Erick Thohir di Jakarta.
Jika masalah ini tak kunjung tuntas, PSBS Biak tidak hanya kehilangan tempat di kasta tertinggi, tetapi juga terancam sanksi berat dari badan arbitrase sepak bola resmi FIFA terkait sengketa gaji pemain.
Load more