AC Milan Masuk Fase Kritis, Jurnalis Italia Ungkap Borok Manajemen RedBird yang Bikin Rossoneri Berpotensi Gagal Lolos Liga Champions
- REUTERS/Daniele Mascolo
Jakarta, tvOnenews.com - Kekalahan terbaru di ajang Serie A kembali menyeret AC Milan ke dalam pusaran krisis yang tak kunjung usai. Situasi yang sempat mereda kini kembali memanas, menghadirkan atmosfer negatif yang mengingatkan pada akhir musim lalu.
Tekanan datang dari berbagai arah setelah hasil buruk tersebut. Para pemain terlihat kehilangan kepercayaan diri, sementara suporter mulai diliputi kecemasan soal arah masa depan klub.
Tidak sedikit yang menilai kondisi saat ini bahkan lebih mengkhawatirkan dibanding sebelumnya. Dampaknya terasa luas, tidak hanya di atas lapangan, tetapi juga menyentuh ranah manajemen dan hubungan internal klub.
Seruan perubahan pun kembali menggema di kalangan publik. Namun, belum ada kejelasan mengenai langkah konkret yang akan diambil untuk memperbaiki situasi.
Nama Massimiliano Allegri menjadi salah satu yang paling sering disorot. Masa depannya dipertanyakan, terutama terkait kegagalan membawa tim tampil konsisten di momen krusial.
Perdebatan pun berkembang soal alasan di balik kemungkinan evaluasi terhadap sang pelatih. Sebagian menilai kegagalan lolos ke Liga Champions sebagai faktor utama, sementara yang lain melihat lambatnya progres sebagai masalah inti.
Di tengah polemik tersebut, sorotan tajam juga mengarah kepada pemilik klub, Gerry Cardinale, dan proyek yang dijalankan RedBird. Banyak pihak mulai meragukan arah kebijakan yang selama ini diambil.
- AC Milan
Jurnalis Italia, Antonio Vitiello, menjadi salah satu yang paling vokal menyuarakan kritik. Dalam ulasannya, ia menggambarkan kekecewaan suporter sebagai akumulasi dari harapan yang tak kunjung terwujud.
Kontras semakin terasa ketika rival sekota, Inter Milan, justru merayakan kesuksesan mereka. Sementara itu, Milan harus menelan kenyataan pahit usai tampil buruk dan kalah dari Sassuolo.
Vitiello juga menyoroti ketimpangan performa Milan dalam beberapa musim terakhir. Ia menilai tim tidak cukup kompetitif untuk bersaing dalam perebutan gelar hingga akhir musim.
Sejak diambil alih oleh RedBird pada 2022, perubahan memang terjadi di berbagai lini. Namun, hasil di lapangan dinilai belum mencerminkan ambisi besar sebagai salah satu klub elite Eropa.
Dalam periode tersebut, hanya satu trofi yang berhasil diraih, yakni Supercoppa Italia. Capaian itu dianggap belum cukup untuk memenuhi ekspektasi publik yang tinggi terhadap Milan.
Menurut Vitiello, masalah utama terletak pada perbedaan prioritas antara aspek finansial dan prestasi olahraga. Ia menilai manajemen terlalu fokus menjaga stabilitas ekonomi dibanding membangun tim yang benar-benar kompetitif.
Pandangan ini sejalan dengan kritik yang sebelumnya dilontarkan oleh sejumlah tokoh sepak bola Italia. Mereka menilai pendekatan berbasis investasi semata tidak cukup untuk membawa klub kembali berjaya.
Lebih jauh, Vitiello menyebut Milan membutuhkan kepemimpinan yang memahami identitas klub. Sosok yang tidak hanya piawai mengelola keuangan, tetapi juga memiliki visi kuat dalam membangun prestasi.
Ia juga menyoroti kinerja CEO Giorgio Furlani yang dinilai belum memberikan dampak signifikan di sektor olahraga. Meski berhasil menjaga neraca keuangan, hasil di lapangan tetap menjadi tolok ukur utama.
Di sisi lain, performa tim di lapangan turut mendapat sorotan tajam. Penampilan yang inkonsisten dan penurunan drastis di paruh kedua musim menjadi bukti adanya masalah mendasar.
Para pemain dinilai kehilangan karakter dan semangat juang. Dalam beberapa pertandingan, mereka tampak tidak menunjukkan identitas sebagai tim besar yang terbiasa bersaing di level tertinggi.
Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang peran manajemen dalam menjaga budaya klub. Tanpa fondasi yang kuat, sulit bagi Milan untuk kembali menjadi kekuatan dominan di sepak bola Eropa.
Kini, AC Milan berada di titik krusial yang akan menentukan arah masa depan mereka. Keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan sangat berpengaruh terhadap nasib klub di musim-musim berikutnya.
(sub)
Load more