Vietnam Ketar-ketir Soal Strategi John Herdman? ASEAN Cup 2026: Status Underdog Timnas Indonesia Bisa Jadi Bumerang untuk Rival
- Sassuolo Official
tvOnenews.com - Apakah Timnas Indonesia memang pantas disebut underdog jelang ASEAN Cup 2026? Atau justru itu bagian dari strategi besar sang pelatih, John Herdman?
Pernyataan Herdman yang menyebut Indonesia belum menjadi pesaing utama justru memantik kekhawatiran media Vietnam. Mereka menilai ucapan itu bisa menjadi taktik psikologis yang berbahaya.
Dalam laporan The Thao247 pada 16 Februari 2026, disebutkan bahwa Herdman secara jujur mengakui Indonesia belum masuk kategori favorit juara ASEAN Cup 2026.
“Menjelang ASEAN Cup 2026, pelatih John Herdman secara jujur mengakui bahwa Indonesia belum menjadi pesaing utama,” tulis media tersebut.
Ia juga menekankan bahwa tim perlu menghapus bayang-bayang enam kali finis sebagai runner-up sebelumnya.
Herdman sendiri mengatakan, “Kami adalah tim underdog, tetapi itu menciptakan motivasi.” Kalimat ini sederhana, tetapi sarat makna.
Strategi Rendah Hati atau Taktik Psikologis?
Secara historis, Indonesia memang belum pernah meraih gelar ASEAN Cup sejak era Piala Tiger 1996. Status tanpa trofi membuat label underdog terasa realistis.

- PSSI
Namun dalam sepak bola modern, narasi underdog sering kali dipakai untuk mengurangi tekanan sekaligus membangun mental kompetitif.
Menurut The Thao247, pendekatan rendah hati ini menunjukkan Indonesia memilih memosisikan diri sebagai penantang, bukan favorit.
Dengan begitu, tekanan publik dan ekspektasi berlebihan bisa ditekan. “Mengakui status ‘underdog’ mereka sejak awal mungkin merupakan taktik psikologis dari pelatih Herdman,” tulis media tersebut.
Strategi ini bukan hal baru bagi Herdman. Saat menangani Timnas Kanada, ia juga membangun mentalitas tim yang tidak diunggulkan.
Namun perlahan, ia membentuk kultur kerja keras, disiplin taktik, dan solidaritas tim yang kuat. Hasilnya? Kanada lolos ke Piala Dunia 2022, sebuah pencapaian bersejarah setelah absen 36 tahun.
Pendekatan Herdman biasanya dimulai dari fondasi mental. Ia menekankan identitas kolektif, transisi cepat, pressing agresif, serta kedisiplinan bertahan.
Ketika melatih Kanada, ia mampu memaksimalkan pemain-pemain diaspora dan yang berkarier di Eropa untuk membentuk tulang punggung tim yang solid. Pola ini berpotensi diterapkan di Indonesia.
Load more