STY Ungkap Perubahan Drastis Kondisi Fisik Pemain Timnas Indonesia: Saat Pertama Datang
- Instagram/asnawi_bhr
tvOnenews.com - Shin Tae-yong menyoroti adanya perbedaan mencolok antara kondisi pemain Timnas Indonesia era awal 2020-an sampai pada akhir tahun 2024, terutama setelah dirinya tidak lagi menangani tim Garuda.
Meski telah berpisah dengan Timnas Indonesia sejak awal 2025, kontribusi STY dalam membentuk generasi baru masih menjadi perhatian.
Salah satu yang paling berdampak adalah “potong generasi”, yang membuka jalan bagi lahirnya pemain-pemain muda seperti Marselino Ferdinan, Asnawi Mangkualam, dan Pratama Arhan.
- Instagram @shintaeyong7777
Kebijakan tersebut dinilai menjadi titik awal transformasi skuad Timnas Indonesia di level internasional.
Melalui penjelasan penerjemahnya, Jeje, terungkap alasan di balik keputusan tersebut.
Saat pertama kali menangani Timnas Indonesia, Shin Tae-yong melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pemain.
“Begitu Coach Shin datang di awal generasi itu memang, banyak pemain yang tidak mengikuti peraturan, tidak patuh dengan peraturan, dan juga malas-malasan di lapangan, banyak berbohong juga,” ungkap Jeje, dikutip dari kanal YouTube Mansion Sports FC.
Kondisi tersebut dinilai menghambat pembentukan tim yang disiplin. “Jadi, kalau begini tidak akan bisa menjadi tim yang disiplin. Jadi akhirnya Coach Shin ambil keputusan seperti itu,” lanjutnya.
Masalah kedisiplinan juga terlihat dalam keseharian pemain saat pemusatan latihan, termasuk pola makan hingga sikap terhadap program latihan. Intensitas latihan yang tinggi membuat sebagian pemain sulit beradaptasi dan tidak sepenuhnya jujur dalam menjalankan instruksi pelatih.
“Mereka juga sering berbohong juga karena porsi latihannya banyak, dan banyak juga yang tidak disiplin. Kalau begini tidak akan bisa berkembang menurut Coach Shin Tae-yong, akhirnya Coach Shin ambil keputusan untuk potong generasi, mau nggak mau,” jelas Jeje.
Selain aspek mental dan disiplin, perbedaan mencolok juga terlihat dari kondisi fisik pemain antara 2020 sampai 2024. Host menanyakan perbandingan tersebut, dan Jeje menyampaikan pernyataan STY.
“(Perbedaan) fisiknya mungkin jauh, satu mungkin di langit, satu di tanah. Di awal-awal memang banyak pemain yang tidak weight training, dan juga nggak tahu core training,” ungkap Jeje.
- Instagram @shintaeyong7777
Menurut Shin Tae-yong, latihan core menjadi aspek penting karena berpengaruh pada daya tahan pemain di lapangan.
“Memang 25 menit masih bisa ngikutin di lapangan, tapi selepas itu lewat 20-25 menit, mereka udah nggak bisa ikutin, karena nggak kuat. Jadi segitunya, corenya belum ada,” tuturnya.
“Otot kecil, bagian perut, ya semua masuk,” tambah Jeje.
Jeje juga menegaskan bahwa latihan core selalu menjadi bagian penting dalam setiap pemusatan latihan Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong. (ind)
Load more