Bojonegoro, Jawa Timur – Siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berhasil menjuarai perlombaan nasional Madrasah Robotic Competition 2020 yang diselenggarakan Kementrian Agama. Prestasi madrasah yang berada di pelosok desa ini sungguh membanggakan.
Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah kepoh di Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro,letaknya terbilang jauh dari perkotaan. Wilayah tempatnya berdiri bisa dikatakan berada di daerah pinggiran, di wilayah timur Bojonegoro. Tetapi jangan pernah mengecilkan upaya sekolah ini untuk sebanding dengan sekolah-sekolah lainnya di perkotaan.
Buktinya, sekolah ini memberikan tambahan pelajaran ekstrakurikuler dengan memanggil guru pembina di bidang robotik agar anak didiknya bisa membuat robot.
Dan kini baru setahun berjalan pelajaran ekstrakurikuler perobotan, sekolah ini sudah berhasil memborong empat kejuaraan di bidang robotic menyingkirkan 125 peserta dari berbagai daerah lain yang berlangsung baru- baru saja di Universitas Islam As Syafi’iyah, Bekasi, Jawa Barat.
Adalah Aldafaira Cahaya Putri, siswi kelas enam, dan M Sulton Sayyid Hidayat siswa kelas empat, berhasil meraih juara Best Participant kategori Amphibius Solar Vehicle.
Sedangkan A Taufik Hidayat dan M Raditya Rizzky, keduanya duduk di kelas lima berhasil juara satu best participant kategori Sumo iot.
Kemudian Hagya Sofia Humairo dan Ifa Dwi Nur Hidayah, masing-masing kelas lima berhasil juara dua best point kategori sumo iot.
Sedangkan Syafira el Zahra Bintaro siswi kelas enam, dan M Al-fath Ditho Aufa Jayadi siswa kelas empat berhasil menjadi juara tiga best design kategori ASV.
Robot-robot hasil kreasi siswa Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Kepoh ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan untuk sumo iot. Seperti dapat dijalankan secara wireless melalui Bluetooth sehingga dapat dioperasikan oleh siapapun dengan menggunakan smartphone.
Sedangkan robot kapal berjenis ASV yang dinamai Angling Dharma dan Batik Madrim bisa berjalan sendiri di darat dan air dengan mengoptimalkan tenaga surya.
“Senang sekali karena bias membanggakan sekolah. Sempat agak grogi dan tidak percaya diri karena lawannya hebat-hebat. Saya dapat banyak pengalaman,” kata Aldafaira Cahaya Putri.
Nah, kalau prestasinya sudah sehebat ini jangan pernah lagi bilang kalau sekolah Madrasah itu hanya fokus pada ilmu agama saja. Dan yang terpenting, sekolah di daerah pinggiran pun bisa berprestasi tinggi asal selalu giat belajar dan mau berinovasi. (ito)
(Lihat juga: Waspada penipuan investasi)