Diam-diam Orang Indonesia Kebanyakan Gula, Gigi Jadi Korban Pertama? Ini Solusi Proteksinya
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Gaya hidup modern membuat konsumsi gula semakin sulit dihindari. Minuman kopi kekinian, teh boba, soda, dessert instan, hingga camilan manis kini menjadi bagian dari rutinitas harian masyarakat urban.
Tanpa disadari, pola konsumsi seperti ini membuat asupan gula harian melonjak jauh di atas batas aman yang dianjurkan.
Di Indonesia, persoalan ini mulai menjadi perhatian serius. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per hari.
Namun berbagai riset menunjukkan rata-rata konsumsi gula masyarakat Indonesia kini sudah mencapai 62 hingga 75 gram per hari. Angka tersebut belum termasuk “gula tersembunyi” yang banyak ditemukan dalam minuman kemasan, saus, makanan cepat saji, dan produk olahan modern.
Fenomena serupa sebenarnya juga terjadi di banyak negara maju. Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat tingginya konsumsi gula tambahan menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus obesitas dan gangguan kesehatan gigi.
Sementara di Jepang dan Korea Selatan, tren produk oral care berbasis teknologi dan enzim mulai berkembang sebagai respons terhadap pola konsumsi makanan modern yang tinggi gula dan asam.
Kesadaran menjaga kesehatan mulut kini tidak lagi hanya soal menyikat gigi, tetapi juga perlindungan biologis terhadap bakteri dan plak yang terbentuk setelah mengonsumsi makanan manis.
Konsumsi Gula Berlebih Picu Krisis Kesehatan Gigi
Tingginya konsumsi gula bukan hanya berkaitan dengan diabetes atau obesitas. Rongga mulut justru menjadi area pertama yang menerima dampaknya secara langsung.
Ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman manis, bakteri di mulut dengan cepat mengubah sisa gula menjadi asam yang dapat merusak enamel gigi.
Menurut berbagai penelitian kesehatan gigi, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang hingga hampir tiga kali lipat.
Prosesnya bahkan berlangsung sangat cepat. Dalam waktu sekitar 20–30 menit setelah mengonsumsi makanan manis, bakteri Streptococcus mutans mulai memproduksi asam yang mengikis lapisan pelindung gigi.
Tak hanya itu, gula juga diubah menjadi glukan, yaitu senyawa lengket yang membantu plak menempel kuat di permukaan gigi. Kondisi inilah yang membuat pembersihan secara mekanis menggunakan sikat gigi biasa terkadang belum cukup optimal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah lama mengingatkan bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Buruknya kesehatan oral dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, hingga risiko penyakit kronis lainnya.
Negara Maju Mulai Gunakan Enzim untuk Oral Care
Di tengah meningkatnya konsumsi gula global, sejumlah negara mulai mengembangkan pendekatan baru dalam perawatan gigi.
Jika sebelumnya fokus utama hanya pada pembersihan mekanis, kini berkembang teknologi oral care berbasis enzim untuk membantu memecah plak dan menekan pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan gigi.
Salah satu enzim yang mulai banyak digunakan adalah enzim Dextranase. Enzim ini bekerja dengan memecah glukan atau lapisan lengket pembentuk plak sehingga bakteri lebih mudah dibersihkan dari permukaan gigi.
Pendekatan ini banyak dikembangkan dalam riset kesehatan mulut di negara-negara dengan industri teknologi kesehatan maju seperti Jepang, Swiss, dan Korea Selatan.
Menyesuaikan tren tersebut, pakar kesehatanmenyarankan penggunaan Dextranase dan Lysozyme sebagai proteksi tambahan terhadap dampak kons umsi gula berlebih. Head of Research & Development usmile Global, dr. Liu Jitao menjelaskan bahwa pendekatan biologis menjadi penting di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat modern.
Di tengah tingginya asupan gula harian, pembersihan gigi secara mekanis konvensional sering kali tidak lagi memadai karena bakteri mengubah gula menjadi glukan yang sangat lengket.
Riset di usmile berfokus pada pencegahan di tingkat biologis. Penggunaan enzim seperti Dextranase terbukti secara klinis mampu mendegradasi glukan tersebut dan menurunkan daya lekat plak pada permukaan enamel.
Menurutnya, kombinasi Dextranase dan Lysozyme membantu membongkar struktur plak sekaligus menekan perkembangan bakteri penyebab karies sebelum kerusakan semakin parah.
Perubahan gaya hidup masyarakat membuat pendekatan preventif semakin penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Di banyak negara maju, kesadaran melakukan pencegahan mulai meningkat seiring tingginya konsumsi makanan ultra-proses dan minuman berpemanis.
- Ist
Selain rutin menyikat gigi dan mengurangi konsumsi gula, penggunaan produk oral care berbasis teknologi kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup kesehatan modern.
Inovasi seperti teknologi color-correcting untuk membantu mengurangi tampilan noda kuning pada gigi hingga formulasi enzimatik menjadi tren baru dalam industri perawatan mulut global.
Di Indonesia sendiri, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan gigi terlihat dari pertumbuhan pasar produk oral care premium dan preventif dalam beberapa tahun terakhir.
Edukasi mengenai bahaya gula tersembunyi dan pentingnya menjaga kesehatan mulut juga semakin sering digaungkan, terutama di kalangan masyarakat urban dan generasi muda.
Di tengah kondisi tersebut, pendekatan berbasis sains dinilai menjadi salah satu solusi yang relevan untuk membantu masyarakat menghadapi tingginya konsumsi gula di era modern tanpa mengabaikan kesehatan gigi dan mulut mereka. (udn)
Load more