Hadiri PENAS XVII di Gorontalo, Mentrans Dorong Swasembada Pangan Kawasan Transmigrasi
- Istimewa
“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden, karena pupuk subsidi yang selama ini harganya tinggi, sekarang sudah lebih terjangkau. Sehingga kami petani bisa mampu dan bisa lancar untuk bertani,” kata petani asal Papua Barat Daya, Timotius, yang hadir dalam kegiatan.
“Yang sudah kami rasakan yaitu bantuan jagung pipil, yang kedua padi. Kami sudah siap mencetak 250 hektare sawah,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Iftitah mengungkapkan bahwa capaian tersebut menjadi dorongan untuk mempercepat pembangunan kawasan berbasis komoditas unggulan.
Kawasan transmigrasi dapat dikembangkan sebagai lumbung pangan, sentra perkebunan rakyat, kawasan peternakan, perikanan, hingga basis energi terbarukan yang terintegrasi dengan kebutuhan daerah dan nasional.
“Kami ingin kawasan sentra pangan ini tidak hanya menghasilkan produksi yang tinggi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan pertanian,” jelas Iftitah, saat kunjungan kerja ke Kawasan Transmigrasi Salor, Papua Selatan beberapa waktu lalu.
Presiden juga menyinggung langkah Indonesia menuju swasembada energi melalui rencana peluncuran B50 pada Juli 2026. Kebijakan ini membuka ruang penting bagi kawasan-kawasan produksi kelapa sawit dan komoditas energi lainnya untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai energi nasional.
Dari PENAS XVII di Gorontalo, Kementerian Transmigrasi membawa satu pesan utama yakni pembangunan kawasan harus semakin dekat dengan rakyat yang bekerja. Di tangan petani, nelayan, dan masyarakat kawasan, transmigrasi dapat menjadi jembatan dari lahan rakyat menuju lumbung negeri.(raa)
Load more