Mengapa Rumah Tidak Layak Huni Bisa Memperburuk Kualitas Hidup Keluarga?
- Gambar ilustrasi AI
BPS menggunakan empat komponen untuk mengukur akses rumah layak huni, yakni kecukupan luas tempat tinggal minimal 7,2 meter persegi per kapita, akses air minum layak, sanitasi layak, dan ketahanan bangunan. Keempat aspek tersebut memperlihatkan bahwa kelayakan rumah berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, bukan sekadar bentuk bangunan.
Hunian Layak Berpengaruh terhadap Produktivitas dan Masa Depan Anak
Dampak rumah yang tidak layak juga dapat meluas ke kehidupan sosial dan ekonomi keluarga. Ruangan yang sempit, pencahayaan kurang, atau kondisi rumah yang tidak nyaman bisa mengganggu waktu istirahat maupun aktivitas anggota keluarga.
Bagi anak-anak, rumah merupakan salah satu ruang utama untuk belajar dan mengembangkan diri. Ketika lingkungan tempat tinggal tidak mendukung, mereka mungkin kesulitan mendapatkan ruang yang tenang untuk membaca atau mengerjakan tugas. Kondisi tersebut tidak otomatis menentukan prestasi seorang anak, tetapi dapat menjadi hambatan tambahan dalam proses belajar.
Orang dewasa juga membutuhkan lingkungan rumah yang mendukung pemulihan setelah bekerja. Tempat tinggal yang aman dan nyaman membantu keluarga menjalankan rutinitas tanpa terus-menerus dibayangi kekhawatiran terhadap kerusakan bangunan atau kondisi lingkungan.
Dengan demikian, perbaikan rumah dapat dipandang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Intervensi di sektor perumahan juga perlu berjalan beriringan dengan peningkatan akses pendidikan, layanan kesehatan, air bersih, dan kesempatan ekonomi.
BSPS Menjadi Salah Satu Upaya Memperbaiki Kualitas Hunian
Pemerintah memiliki sejumlah program untuk membantu masyarakat memperoleh tempat tinggal yang lebih layak. Salah satunya adalah Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), yaitu dukungan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk meningkatkan kemampuan dan keswadayaan dalam memenuhi kebutuhan rumah layak huni.
Program ini mendukung peningkatan kualitas rumah tidak layak huni maupun pembangunan rumah swadaya sesuai ketentuan. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena perbaikan hunian tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi juga partisipasi dan gotong royong warga.
Gambaran manfaat perbaikan rumah terlihat dalam pelaksanaan BSPS di Dusun Karanganyar, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono meninjau rumah warga penerima bantuan, termasuk milik Pak Endro dan Pak Muklas.
Load more