Tangsel One dan Helita, Saat Wajah Pelayanan Publik Dimulai dari Percakapan
- Istimewa
tvOnenews.com - Pemerintah Kota Tangerang Selatan meluncurkan Tangsel One dan Helita sebagai pintu masuk baru pelayanan publik digital. Lewat WhatsApp, 441 layanan publik akan diintegrasikan bertahap. Inovasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagian dari reformasi birokrasi, kedaulatan data, dan perubahan cara pemerintah berinteraksi dengan warga.
Pada mulanya, pelayanan publik identik dengan ruang tunggu, loket, nomor antrean, berkas yang harus dibawa, dan jam kerja kantor. Warga datang, bertanya kepada petugas, lalu berpindah dari satu meja ke meja lain untuk memastikan syarat layanan yang dibutuhkan sudah benar. Namun, di Ruang Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Kamis, 30 April 2026, cara lama itu mulai digeser pelan-pelan. Pemerintah Kota Tangerang Selatan memperkenalkan sebuah wajah baru pelayanan publik digital: Tangsel One dan Helita — Helo Kita Tangsel.
Inovasi itu tidak dimulai dari aplikasi yang harus diunduh. Tidak pula dimulai dari halaman situs yang harus diingat satu per satu. Ia dimulai dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan hampir semua pengguna ponsel: percakapan.
Lewat Helita, warga cukup membuka WhatsApp, memulai chat, lalu menyampaikan kebutuhan layanan. Dari sana, sistem akan membantu memberi informasi, menjawab pertanyaan, mengarahkan kanal yang sesuai, hingga secara bertahap membantu proses layanan publik yang dibutuhkan.
Bagi Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, kemudahan itulah yang ingin ditawarkan kepada masyarakat. Pemerintah, menurut dia, tidak boleh hanya hadir dalam bentuk kantor fisik. Pemerintah juga harus hadir di ruang digital, di genggaman warga, kapan pun mereka membutuhkan.
“Jadi nggak usah mendownload aplikasi yang lain, cukup Helo Kita dimasukin dalam daftar WhatsApp handphone kita. Mau nanya apa aja, mau pelayanan publik apa aja, nanti akan bisa dilayani oleh Helita ini,” ujar Benyamin seusai peluncuran.
Tangsel One hadir sebagai respons atas banyaknya kanal layanan publik yang selama ini tersebar di berbagai perangkat daerah. Bagi pemerintah, setiap kanal mungkin dibangun untuk menjawab kebutuhan tertentu. Namun bagi masyarakat, terlalu banyak pintu layanan kerap menimbulkan kebingungan baru.
Warga harus tahu aplikasi mana yang digunakan, situs mana yang dibuka, dokumen apa yang disiapkan, ke dinas mana harus bertanya, dan kepada siapa pengaduan perlu disampaikan. Dalam banyak kasus, yang sederhana bagi birokrasi belum tentu sederhana bagi masyarakat.
Di sinilah Tangsel One mencoba mengambil peran. Ia dirancang sebagai satu ekosistem digital untuk menghubungkan berbagai layanan publik di Kota Tangerang Selatan.
Benyamin menyebut, terdapat 441 layanan publik yang secara bertahap akan diintegrasikan ke dalam Tangsel One. Dengan integrasi itu, warga tidak lagi harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
“Semua, ada 441 layanan aplikasi pelayanan publik di Kota Tangerang Selatan. Secara bertahap nantinya semuanya akan menjadi satu. Dan di OPD-nya juga, yang semua punya aplikasi tadi, nanti semuanya hanya mengakses Helita ini saja, Tangsel One ini saja,” kata Benyamin.
Pada tahap awal, layanan perizinan melalui DPMPTSP menjadi salah satu layanan yang sudah dapat diakses. Setelah itu, layanan dari organisasi perangkat daerah lain akan terus ditambahkan secara bertahap.
Benyamin memberi contoh sederhana. Jika warga ingin mengurus Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG, warga dapat bertanya kepada Helita mengenai syarat dan alurnya. Sistem kemudian memberi petunjuk dokumen yang perlu disiapkan, termasuk kemungkinan mengunggah dokumen yang dibutuhkan.
“Basisnya memang AI, tapi diperluas untuk bukan saja sekadar informasi, tapi juga layanan-layanan publik yang lain. Misalnya, saya pengin bikin PBG, apa aja syaratnya? Ya ini, ini, ini, tolong siapin KTP-nya. Nanti di-upload, nanti Helita yang ke dinas teknisnya,” ujar Benyamin.
Dengan cara itu, Helita tidak diposisikan sekadar sebagai chatbot yang menjawab pertanyaan umum. Ia diarahkan menjadi pendamping awal warga dalam memahami dan mengakses layanan pemerintah.
Benyamin menyebut Helita sebagai pendamping Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat. Layanan ini juga disiapkan untuk aktif selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu.
“Helita ini sebuah pendamping pemerintah kota untuk memberikan penjelasan dan membantu masyarakat dalam pelayanan-pelayanan yang diperlukan oleh masyarakat. Sehingga masyarakat nanti ke depan bisa di rumah, bisa tengah malam, bisa kapan saja. Karena ini betul-betul 24 jam dan satu minggu full, tujuh hari dia standby,” katanya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan, Tubagus Asep Nurdin, menjelaskan bahwa basis chat dipilih karena dekat dengan keseharian masyarakat. Pemerintah tidak ingin warga dipaksa memahami sistem yang rumit. Sistemlah yang harus dibuat lebih mudah mengikuti kebiasaan warga.
“Kenapa Helita ini kita buat basisnya chat? Karena supaya memudahkan. Jadi masyarakat sudah tidak perlu lagi buka aplikasi dan sebagainya. Yang sangat mudah ini sebetulnya keseharian warga. Keseharian warga itu apa? Ya biasa chat,” ujar Asep.
Menurut Asep, inti dari pengembangan Helita adalah menghadirkan kemudahan. Warga cukup memulai percakapan untuk mengakses layanan publik.
“Helita ini kita hadirkan cukup dengan satu chat saja, masyarakat bisa mengakses layanan publik yang ada di Kota Tangerang Selatan. Jadi intinya adalah kami siapkan yang mudahnya, supaya warga tidak kesulitan,” katanya.(chm)
Load more