Teriak-teriak Cari Linggis, KDM Turun Evakuasi Korban Bencana Longsor di Bandung Barat
- Tangkapan layar
“Kita belum bisa mengidentifikasi. Fokus saya hari ini adalah mengangkat jenazah secara bertahap, kemudian melakukan pemulihan lingkungan,” kata Dedi.

- Tangkapan layar
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan komitmennya untuk memberikan bantuan sebesar Rp10 juta per kepala keluarga (KK) kepada para korban terdampak longsor. Ia juga membawa sebanyak 1.000 kotak nasi untuk para pengungsi.
“Nanti bantuannya Rp10 juta per kepala keluarga, dipakai untuk ngontrak dulu, di mana saja terserah,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, para pengungsi berpotensi mengalami tekanan psikologis jika terlalu lama tinggal di posko pengungsian.
“Kalau di sini terus, tambah stres, bisa jadi penyakit,” ucapnya.
Ia pun menginstruksikan Sekda Jabar Herman Suryatman untuk segera menyiapkan alokasi anggaran bantuan tersebut.
Bantuan itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar korban, sehingga pemerintah bisa lebih fokus pada pencarian korban yang masih tertimbun dan pemulihan pascabencana.
“Rp10 juta per kepala keluarga untuk kontrakan dan bekal hidup sekitar dua bulan, supaya kita fokus pada recovery dan penyelesaian pencarian korban,” jelas Dedi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa bencana alam dapat menimpa siapa saja, termasuk mereka yang tidak secara langsung menyebabkan bencana tersebut.
“Longsor di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa bencana bisa menimpa siapa saja,” kata Dedi.
Ia menyoroti perubahan fungsi alam, seperti lereng gunung yang dialihfungsikan menjadi lahan sayuran dan kebun bunga dengan sistem green house berbahan plastik.
“Itu fakta bahwa kita telah berbuat salah terhadap kawasan perbukitan,” ujarnya.
Dedi juga menyinggung alih fungsi sawah menjadi perumahan serta pendangkalan sungai sebagai bentuk ketidakpedulian manusia terhadap alam.
Orang nomor satu di Jawa Barat itu mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan introspeksi dan mulai menghentikan perilaku yang merusak lingkungan.
“Sudah saatnya kita mengubah perilaku buruk yang menjadikan alam sekadar objek eksploitasi, tanpa memperhatikan keharmonisan dan keselarasan hidup,” tuturnya.
Tak hanya masyarakat, Dedi juga meminta pemerintah untuk berani mengakui kesalahan dalam pengelolaan lingkungan.
Load more