Gubernur Jawa Barat, KDM Ingin Ubah Cara Pandang Klenik Jadi Akademik: Kita Harus Melihat dari Sudut Peradaban
- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Mengenal Mahkota BinokasihL Bukan Sekadar Pusaka Klenik
Nama Mahkota Binokasih selama ini memang lekat dengan nuansa mistik dan sakral. Padahal, di balik citra tersebut tersimpan nilai sejarah besar tentang kejayaan Kerajaan Sunda.
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan pusaka peninggalan Pajajaran abad ke-14 yang kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Mahkota ini terbuat dari emas murni dengan berat mencapai sekitar 8 kilogram.
Secara historis, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh oleh Prabu Bunisora Suradipati dan menjadi simbol legitimasi kekuasaan Sunda sebelum akhirnya diwariskan kepada Kerajaan Sumedang Larang.
Tak hanya bernilai sejarah, Mahkota Binokasih juga menyimpan filosofi mendalam. Nama “Binokasih” dimaknai sebagai simbol kasih sayang, sementara bentuknya yang bertingkat merepresentasikan konsep Tritangtu Sunda: silih asah, silih asih, dan silih asuh.
- Ist
Karena itu, Dedi Mulyadi menilai mahkota tersebut harus dipahami sebagai simbol peradaban tinggi, bukan sekadar objek ritual.
Menariknya, banyak kerajaan besar dunia juga melakukan hal serupa terhadap benda pusaka mereka. Di Inggris misalnya, mahkota kerajaan disimpan dengan pengamanan tinggi sekaligus diteliti secara akademik sebagai bagian dari sejarah nasional. Pendekatan itulah yang kini ingin diterapkan terhadap warisan budaya Sunda.
Kirab Mahkota Binokasih Jadi Pengingat Peradaban Sunda
Gagasan Dedi Mulyadi soal pendekatan akademik terhadap sejarah Sunda juga terlihat dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026 bertajuk “Kawali Mulang Ka Diri”.
Dalam acara yang berlangsung di Situs Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis, Dedi hadir langsung mengikuti kirab budaya Mahkota Binokasih bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Suasana berlangsung khidmat. Ribuan warga memadati jalur kirab demi menyaksikan kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih dari Taman Surawisesa Kawali menuju Situs Astana Gede Kawali.
Meski hujan deras sempat mengguyur kawasan tersebut, masyarakat tetap bertahan di sepanjang jalan untuk menyaksikan iring-iringan budaya yang dipenuhi berbagai pertunjukan seni tradisional Sunda.
Bagi Dedi Mulyadi, kirab itu bukan sekadar seremoni budaya atau tontonan tahunan. Ia ingin generasi muda memahami bahwa leluhur Sunda memiliki sistem pemerintahan, filosofi hidup, dan tata nilai yang maju pada masanya.
Load more