Harga Kedelai Impor Melejit, Perajin Tahu di Pati Menjerit Putar Otak Agar Tak Gulung Tikar
- Tim tvOne - Abdul Rohim
Pati, tvOnenews.com - Para pelaku usaha kecil menengah (UKM), khususnya perajin tahu di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini tengah dirundung kecemasan.
Lonjakan harga kedelai impor yang terjadi dalam satu bulan terakhir memaksa mereka memutar strategi ekstra keras agar produksi tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.
Saat ini, harga bahan baku utama pembuatan tahu tersebut merangkak naik hingga menyentuh angka Rp10.600 hingga Rp11.000 per kilogram.
Dalam kurun waktu hanya satu bulan, kenaikan harga tercatat mencapai Rp1.600 hingga Rp1.700 per kilogram.
Salah satu perajin tahu di Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Diyono, mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat memukul margin keuntungan para perajin.
Meski biaya operasional membengkak, ia mengaku belum berani menaikkan harga jual tahu di pasaran.
"Kalau kita menaikan harga takutnya nanti pelanggan akan beralih. Dampak yang kita rasakan ya keuntungan berkurang jadi menipis,” ujar Diyono, Kamis (9/4/2026).
Dalam sehari, Diyono mampu mengolah sekitar 70 kilogram kedelai yang menghasilkan kurang lebih 40 papan tahu.
Ia menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, kenaikan harga ini tidak terlepas dari faktor eksternal, yakni konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Kenaikan harga kedelai ini kabarnya dipengaruhi perang di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ini berdampak langsung pada distribusi dan harga komoditas kedelai impor ke Indonesia," jelasnya.
Kondisi ini kembali mempertegas kerentanan industri pangan lokal akibat ketergantungan Indonesia yang sangat tinggi terhadap kedelai impor. Hingga saat ini, penggunaan kedelai lokal dinilai belum mampu menjadi solusi instan bagi para perajin.
“Saat ini kedelai yang digunakan perajin tahu dan tempe kan kebanyakan impor dari Brazil, Argentina, Amerika lain lah,” pungkas dia.
Hal tersebut dikarenakan keterbatasan pasokan dan belum stabilnya produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe secara nasional.
Para perajin berharap pemerintah segera mengambil langkah taktis untuk menstabilkan harga agar mereka tidak terus merana di tengah ketidakpastian ekonomi global. (arm/buz)
Load more