Bapas Kelas II Nusakambangan Membuka Angkringan Pinondang
- Istimewa
tvOnenews.com - Tak banyak yang menyangka, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Cilacap, Jawa Tengah, berdiri sebuah ruang yang menghadirkan wajah berbeda dari dunia pemasyarakatan. Berlokasi di Griya Abhipraya Pinondang, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Nusakambangan di Kota Cilacap membuka Angkringan Pinondang, sebuah ruang publik yang baru diresmikan sekitar tiga pekan lalu.
Meski menyandang nama Nusakambangan yang selama ini identik dengan pulau penjara berpengamanan tinggi, Bapas Nusakambangan justru berada di daratan Kota Cilacap. Lokasinya sengaja ditempatkan dekat dengan masyarakat agar layanan pembimbingan terhadap klien pemasyarakatan dapat berjalan lebih efektif sekaligus membuka ruang interaksi dengan publik.
Suasana tersebut dirasakan rombongan media yang didampingi jajaran Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik (Pusdatin) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) saat berkunjung pada Senin (27/7/2026).
Malam itu, aroma wedang jahe yang baru diseduh dan kopi lokal langsung menyambut setiap pengunjung. Alunan musik mengiringi suasana santai khas angkringan. Hangat, akrab, dan jauh dari kesan kaku yang selama ini kerap dilekatkan pada institusi pemasyarakatan.
Namun, Angkringan Pinondang bukan sekadar tempat menikmati makanan dan minuman. Di balik konsep sederhana tersebut tersimpan misi besar, yakni menghapus stigma terhadap klien pemasyarakatan sekaligus memperkenalkan hasil karya warga binaan kepada masyarakat.
Di salah satu sudut ruangan, berbagai produk hasil karya warga binaan dari sejumlah Lapas di Nusakambangan dipajang rapi. Mulai dari kopi, aneka produk olahan pangan, kerajinan tangan, hingga produk unggulan berupa es krim Nibaya berbahan dasar singkong yang telah menjadi salah satu ikon kreativitas warga binaan.
Di bagian belakang galeri terdapat workshop pengolahan Jaheku, produk unggulan Bapas Nusakambangan hasil program pembimbingan kemandirian. Minuman herbal tersebut diproduksi oleh para klien pemasyarakatan, termasuk klien anak, dengan memanfaatkan jahe emprit dan jahe merah sebagai bahan baku utama.
Kehadiran Jaheku menjadi bukti bahwa proses pembimbingan di Bapas tidak hanya berfokus pada pendampingan administratif, tetapi juga membekali para klien dengan keterampilan berwirausaha yang memiliki nilai ekonomi. Selain Jaheku, Bapas juga memasarkan telur omega hasil pemberdayaan klien serta kopi dari kawasan Majenang yang dibudidayakan dan dipasarkan melalui jejaring Bapas.
Load more