Melon Wates Naik Kelas: Teknologi dan Digitalisasi untuk Menggerakkan Ekonomi Desa
- Antara
Di sisi hilir, KWT Wani Maju yang beranggotakan 20 perempuan memanfaatkan melon Grade C sebagai bahan baku produk olahan, salah satunya keripik melon. Buah yang sulit bersaing di pasar segar memperoleh nilai tambah setelah diolah.
Untuk mendukung kegiatan produksi, dipasang satu unit panel surya berkapasitas 800 Wp sebagai sumber listrik alternatif mesin pengolahan. Pendampingan juga diberikan dalam pengelolaan produksi dan administrasi usaha, termasuk pencatatan bahan dan hasil produksi.
Penguatan manajemen dilakukan pula di Koperasi Republik Melon melalui penataan pembagian tugas pengurus dan penerapan sistem informasi usaha. Langkah ini diharapkan membuat pengelolaan produksi dan kegiatan koperasi lebih tertib serta berbasis data.
Sementara itu, pemasaran mulai diperluas ke ruang digital. Koperasi mengembangkan website yang memuat informasi panen, produk, profil, paket wisata, dan kontak pemesanan. KWT Wani Maju mulai mengembangkan TikTok sebagai sarana memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.
Pendampingan tidak berhenti pada pembuatan akun. Mitra belajar membuat video, menyusun caption, dan mengelola konten secara konsisten. Dengan cara ini, produk lokal tidak hanya ditawarkan sebagai barang, tetapi juga diperkenalkan melalui cerita di baliknya.
Keripik melon, misalnya, membawa cerita tentang petani Wates, pemanfaatan Grade C, serta pemberdayaan kelompok perempuan. Cerita tersebut menjadi bagian dari identitas produk sekaligus membuka peluang pasar baru.
Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan agribisnis tidak berhenti di greenhouse. Produksi, pengolahan, manajemen, dan pemasaran mulai dibangun sebagai satu rantai nilai. Grade A diarahkan ke pasar premium, Grade B diperkuat pemasarannya, sedangkan Grade C dikembangkan menjadi bahan baku produk olahan.
Program ini masih berlanjut hingga tahun ketiga dengan agenda penguatan pengendalian mutu, diversifikasi produk Grade C, peningkatan kapasitas SDM, pengelolaan risiko, perluasan pemasaran, dan pengembangan eduwisata melon.
“Harapannya, rantai nilai melon di Wates semakin kuat. Petani memperoleh manfaat dari peningkatan kualitas, UMKM mendapatkan nilai tambah dari hasil panen, dan pasar yang dijangkau semakin luas. Dengan begitu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu pelaku usaha, tetapi oleh ekosistem ekonomi desa,” ujar Nilawati.
Load more