Gejolak Geopolitik Dorong Harga Bahan Baku Plastik Naik, Produsen di Surabaya Perkuat Pasokan Lokal dan Strategi Mitigasi
- tvOne - zainal azkhari
Surabaya, tvOnenews.com - Ketegangan geopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada rantai pasok dan harga bahan baku industri pengolahan di Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus 120 dolar AS per barel memicu kenaikan biaya produksi sekaligus meningkatkan risiko terganggunya pasokan bahan baku plastik yang berbasis turunan minyak bumi.
Direktur Utama PT Asia Pramulia (ASPRA), Ricky Winoto, mengatakan industri kemasan plastik menjadi salah satu sektor yang paling awal merasakan dampak dari ketidakstabilan global tersebut.
“Kondisi geopolitik saat ini memang berdampak nyata. Penutupan jalur distribusi dan konflik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia melonjak drastis, dari kisaran 60 dolar AS hingga sempat menyentuh 120 dolar AS per barel. Karena bahan baku plastik berasal dari minyak bumi, otomatis harga ikut naik dan pada beberapa jenis material bahkan terjadi kelangkaan pasokan,” ungkap Ricky di Surabaya, Selasa (9/6/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, perusahaan menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga kelangsungan operasional, di antaranya dengan memperkuat ketersediaan stok bahan baku dan menerapkan strategi mitigasi risiko keuangan.
“Kami menyiapkan cadangan persediaan atau buffer stock agar kebutuhan bahan baku untuk melayani pelanggan tetap terjamin. Selain itu, kami juga memanfaatkan fasilitas lindung nilai atau hedging dari perbankan untuk menekan risiko fluktuasi nilai tukar rupiah yang berpengaruh pada harga impor,” jelasnya.
Ricky menuturkan bahwa keberlangsungan produksi perusahaan saat ini relatif aman karena sebagian besar bahan baku yang digunakan berupa PET, yang basis produksinya banyak berada di kawasan Asia dan tidak bergantung pada wilayah konflik.
“Mayoritas kebutuhan kami adalah PET. Kebetulan jenis ini banyak diproduksi di Asia, termasuk di dalam negeri. Jadi dari sisi ketersediaan masih cukup aman. Saat ini kami mendapatkan suplai dari produsen lokal seperti Indorama, Mitsubishi Chemical, dan Wankai Indonesia, serta impor pendukung dari Vietnam dan Tiongkok,” paparnya.
Selain PET, perusahaan juga mengamankan pasokan bahan baku lain seperti polipropilen dan polietilen melalui jalur alternatif dari Malaysia dan Tiongkok sebagai upaya diversifikasi sumber pasokan.
Meski pasokan dinilai aman, perusahaan mengakui kenaikan harga bahan baku tetap berdampak pada struktur biaya produksi sehingga penyesuaian harga kepada pelanggan tidak dapat dihindari.
“Perubahan harga memang terjadi dan kami harus menyesuaikannya ke pelanggan. Namun untuk stok, kami pastikan masih aman mencukupi kebutuhan produksi beberapa bulan ke depan,” tegas Ricky.
Di tengah tantangan ekonomi global, prospek industri kemasan dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama seiring meningkatnya permintaan dari sektor air minum dalam kemasan (AMDK) dan bertambahnya pemain baru di industri tersebut.
“Segmen AMDK tumbuh cukup signifikan. Banyak merek baru bermunculan dan perubahan pola konsumsi masyarakat membuat kebutuhan kemasan terus naik. Ini menjadi pendorong utama kinerja kami tahun ini,” tambahnya.
Untuk mendukung pengembangan usaha, perseroan menargetkan pertumbuhan bisnis sebesar 20 hingga 30 persen sepanjang 2026. Perusahaan juga mengalokasikan investasi senilai Rp48 miliar untuk pengadaan mesin dan fasilitas produksi baru yang difokuskan pada segmen kemasan air minum.
Sebagian besar investasi, sekitar Rp46 miliar, berasal dari dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) tahun lalu, sementara sisanya menggunakan dana internal perusahaan.
“Kami optimistis target yang telah disampaikan ke Bursa Efek Indonesia dapat tercapai. Permintaan pasar masih sangat kuat dan investasi ini akan menambah kapasitas kami untuk menjawab kebutuhan industri kemasan nasional,” tutup Ricky. (zaz/gol)
Load more